Sunday, June 29, 2008

Pengaruh Orang Tua, Terutama Ayah...?? How?

Hari ini, Minggu 29 Juni 2008, saya mendapat pelajaran berharga. Saya mendengar khotbah yang disampaikan oleh Pdt. W. Hutagaol di HKI Taman Mini. Bagus dan sepertinya mengena bangets buat orang-orang kaya saya, yang katanya sich super sibuk dan mungkin gak sempet dengan hal-hal lain di dunia ini, apalagi keluarga.
Di tema pembuka sich, awalnya saya pikir tentang hikmat, karena dia ambil ayat bahasan dari Amsal 4 : 1 - 13, bunyinya begini:

4:1 Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah
supaya engkau beroleh pengertian,
4:2 karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.
4:3 Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku,
4:4 aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.
4:5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.
4:6 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.
4:7 Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.
4:8 Junjunglah dia, maka engkau akan ditinggikannya; engkau akan dijadikan terhormat, apabila engkau memeluknya.
4:9 Ia akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu."
4:10 Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak.
4:11 Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.
4:12 Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.
4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

Dari ayat tersebut di atas, dia memaparkan hasil penelitian di Jhon Hopkins University tentang penyakit-penyakit yang berkembang dewasa ini. Penelitian itu mengatakan bahwa penyakit-penyakit berat seperti jantung koroner, diabetes sudah menjangkit ke kalangan anak-anak. Hal ini tentu mengejutkan para peneliti, karena mereka telah lama mengetahui bahwa penyakit tersebut biasanya hanya muncul pada orang-orang dewasa.
Akan tetapi, fakta lanjutan dari penelitian tersebut lebih mengejutkan, yaitu bahwa anak-anak yang terkena penyakit tersebut adalah anak-anak yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya (dalam hal ini ayahnya). Mengapa ayah?
Karena ayah adalah IMAM, kepala keluarga, teladan dalam keluarga. Sudah seharusnya ayah menjadi tempat curahan hati anak-anaknya. Dewasa ini, keadaan sudah berbalik. Ayah tidak lagi menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan cenderung menggantikannya dengan hal-hal lain seperti uang, supir, dan sebagainya. Sehingga, anak yang ingin melihat figur ayahnya, tidak dapat melihat contoh di depannya. Atau, yang lebih parah, figur ayah telah rusak karena kesalahan sang ayah sendiri.
Di budaya batak, khususnya bagi kristen batak, ada yang namanya partamiangan, dan biasanya ada doa dari tuan rumah. Dan Anda tau, bahwa yang berdoa di sana bukan sang ayah, tetapi ibu. Posisinya sudah terbalik, sang ayah tidak lagi berfungsi sebagai imam, sehingga justru menimbulkan banyak masalah baru.
Ayah yang seharusnya menemani anak bermain, menggantikannya dengan uang. Ayah yang seharusnya mengantar anak ke sekolah, malah menyuruh supir untuk mengantarkannya. Ayah yang seharusnya berdoa bagi keluarganya, malah menyuruh istrinya melakukannya. Ayah yang seharusnya dan ayah yang seharusnya...
Fakta berikutnya, 97% anak-anak yang berhasil di masa depan adalah karena adanya hubungan yang baik dengan ayahnya. 75% anak yang sehat adalah karena adanya hubungan yang baik dengan ayahnya. Lalu bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan ayah? Di sebuah gereja (saya agak lupa tadi namany), majelis jemaat mencoba membuat sebuah terobosan yaitu dengan meminta kepada setiap keluarga anggota jemaat untuk makan bersama. Makan siang, mungkin agak susah, makan malam sudah terlalu lelah. Jadi makan bersama yang paling baik adalah makan pagi. Di saat semua masih dalam kondisi ceria, semua berkumpul dan makan bersama, berdoa bersama dan curhat bersama.
Hasilnya, banyak masalah yang dapat dipecahkan bersama dan faktanya anak dapat terhindar dari berbagai masalah di luar sana serta sang anak memiliki motivasi yang baik untuk dapat terus maju, karena dia selalu ingin makan bersama dengan keluarganya.
Saya sangat tertarik dengan pemaparan di atas, dan terbersit dalam pikiran saya untuk mencoba mendalami ini dalam bentuk penelitian besar-besaran (akan tetapi, sesuatu yang besar biasanya harus dimulai dari yang kecil). Saya ingin mencoba meneliti apakah benar ada pengaruh yang sedemikian besar antara hubungan orang tua dengan prestasi dan kesehatan anak?
Ada yang tertarik untuk join..??? Penelitian ini dibuka untuk siapa saja, dari belahan dunia manapun juga....
God Bless...

1 comment:

saraswati said...

sy ditinggal sm ayah sy ketika umur sy 16thn dan sy hrs te2p hdp tnpa ada seorg ayah di sisi sy.hal ini membuat sy menjdi lbh mandiri.aplg mlhat kenyatan kl ibu sy hrs berjuang sndrian menghidupi ke2 anknya seorg dri tnpa mendpt bntuan dr siapapun kecuali allah swt.tp g bs sy pungkiri kdang sy merindukan so2k seorg ayah&ketika smua itu sedang terjd sy hnya bs menangis&berdoa untuk beliau agar beliua diterima disisi allah swt.
untuk kalian yg msh mempnyai org tua yg lengkap,jgan pernh menyia2kan wktu untuk bs menjalin hub yg baik dgn mereka.
kykny blh jg ikt serta dlm penelitian bpk!