Friday, October 31, 2008

Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa pada Matematika dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika(Survei pada SMP di Wilayah DKI Jakarta)


 

Leonard

Universitas Indraprasta PGRI

E-mail: leonard@unindra.net


 

ABSTRACT

This aim of this research is to know the relation/link and mount the influence conception the self concept, student attitude of mathematics and student dread to result learn the mathematics.

This research represents the research survey, where accurate by region is region of DKI Jakarta by using method of random sampling. Instrument used to measure the self concept, student attitude of mathematics and dread is by using enquette of have scale of likert with the problem amount of each 34 item, 30 item and 30 item. While data of result of learning mathematics taken away from value raport and assess the last daily restating. Data obtained to be analysed by using path analysis.

Result obtained shall be as follows 1) there is direct influence which are positive conception the self concept to result learn the mathematics, seen from band coefficient of equal to 0,0707; 2) there no indirect influence which are positive among/between self concept to result learn the mathematics of through/ passing dread, seen from coefficient of merger band of equal to 0,002392; 3) there no direct influence among/between student attitude of mathematics to result learn the mathematics of through/ passing dread, seen from coefficient of merger band of equal to 0,000234; 4) there is direct influence which are negative among/between dread to result learn the mathematics, seen from band coefficient of equal to 0,0484; and 5) there is direct influence which are positive among/between self concept to student attitude of mathematics, seen from band coefficient of equal to 0,074


 

Keyword : self concept, student attitude of mathematics, dread, result of learning, path analysis


 

 

PENDAHULUAN

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan kegiatan yang telah berlangsung seumur dengan manusia, artinya sejak adanya manusia telah terjadi usaha-usaha pendidikan dalam rangka memberikan kemampuan kepada subjek didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan lingkungannya. M.J. Langelveld (1971:21) mengatakan bahwa : "Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak didik yang bertujuan pada pendewasaan anak itu". Sehingga dengan diberikannya pendidikan maka seorang anak didik sanggup untuk berbuat dan bertindak sebagai manusia yang berkepribadian sosial. Pendidikan juga dipandang sebagai situasi yang dapat menolong individu yang mengalami perubahan suatu proses, dengan demikian pendidikan dipandang penting sebagai pelaku perubahan dan perkembangan dalam masyarakat.

Untuk mendukung proses belajar mengajar, maka seorang guru harus memiliki dan menerapkan strategi tertentu supaya siswa dapat belajar secara efektif. Hal ini bisa saja dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya pengelolaan pengajaran. Pengelolaan ini pun banyak sekali ragamnya, katakanlah lagi pengelolaan waktu belajar. Dapat dikatakan bahwa mempelajari sesuatu di waktu-waktu siang tentu sudah tidak efektif lagi, sehingga perlu dipikirkan bagaimana mengatur jadwal pelajaran sehingga dapat diperoleh jadwal yang optimal dan dapat diterima oleh siswa.

Keadaan siswa yang kelelahan, mengantuk, lapar, tidak bergairah tentunya menimbulkan perasaan bosan, tidak konsentrasi dalam berpikir serta timbul frustasi, maka siswa sering menunjukkan kecenderungan yang kurang baik. Contohnya, minta ijin keluar kelas untuk buang air, mencuci tangan, mencuci muka, meminjam alat tulis pada teman, mengganggu teman dan perilaku lainnya.

Mata pelajaran yang sukar, biasanya memerlukan konsentrasi tinggi dan untuk saat ini mata pelajaran yang dianggap sukar oleh sebagian besar siswa di Indonesia adalah pelajaran Matematika. Saat ini masih banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika, karena matematika masih dianggap suatu pelajaran yang menakutkan, membosankan, tidak terlalu berguna dalam kehidupan sehari-hari, beban bagi siswa karena bersifat abstrak, penuh dengan angka dan rumus. Selain itu, masih adanya sistem belajar yang menyamaratakan kemampuan siswa, saat siswa belum menguasai materi dasar, sudah ditambah dengan materi lain. Para siswa pun cenderung tidak menyukai matematika karena dianggap sulit terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru matematika. Apalagi jika guru yang mengajar matematika sulit dipahami dalam pembawaan materi di dalam kelas, sehingga keadaan ini menambah ketidaksukaan siswa pada matematika, dan bahkan akhirnya membenci guru matematikanya.

Hasil belajar Matematika siswa dewasa ini, secara umum mengalami peningkatan, khususnya dalam hasil Ujian Nasional. Akan tetapi, hal ini perlu dipertanyakan, karena sudah terlalu banyak fakta, bahwa banyak pihak yang "bermain" di belakang layar sebagai tim sukses siswanya. Ditambah lagi, proses penilaian yang kurang transparan dan soal-soal UN yang kadang-kadang tidak sesuai dengan standar yang ada. Fakta di lapangan menyatakan bahwa siswa kurang memiliki kemampuan dalam hal konsep matematika dan nilai ulangan harian mandiri yang diadakan oleh guru masih menunjukkan angka yang kurang membanggakan.

Hasil belajar matematika siswa dapat dilihat apabila tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh siswa, dan sebaliknya apabila sebagian besar siswa tidak dapat mencapai tujuan-tujuan dari pembelajaran berarti hasil pembelajaran tidak tercapai. Pada dasarnya hasil belajar matematika siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kemampuan siswa dan kualitas mengajar guru atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.

Sebenarnya, hasil belajar ini ditentukan oleh banyak faktor, yaitu faktor guru, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, cara belajar siswa, fasilitas belajar yang digunakan, faktor internal siswa, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seorang siswa yang telah menyadari tugasnya sebagai seorang pembelajar seharusnya dapat menggunakan faktor-faktor yang ada untuk memaksimalkan hasil belajarnya.

Pada keseharian, ada berbagai peran yang dijalani oleh individu sebagai manusia, salah satunya adalah perannya sebagai seorang siswa. Ada banyak sekali pekerjaan, tantangan, dan tuntutan yang dihadapi dan harus di jalankan oleh siswa. Pekerjaan, tantangan dan tuntutan tersebut antara lain pembuatan berbagai macam tugas, laporan, makalah, maupun ujian yang merupakan suatu bentuk evaluasi bagi siswa yang dilaksanakan secara rutin, dan juga tugas-tugas akademis lainnya. Misalnya saja jika siswa dalam menghadapi ujian, mereka dapat mengendalikan tegangan saat menghadapi ujian, dan tetap tenang, maka tidak ada hal yang menghambatnya, setidaknya dari dalam dirinya ia sudah dapat menguasai kondisinya sendiri. Tapi jika siswa memiliki perasaan takut akan kegagalan atau merasa panik dalam menghadapi ujian, walaupun ia memiliki motivasi untuk berprestasi, tetap saja siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat meraih prestasi yang maksimal.

Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam dan menekan (Pangaribuan, 2001). Misalnya saja, apabila seseorang ingin melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut, apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya. Dalam kondisi dimana rasa cemas menghinggapi pikiran seseorang, tentunya orang tersebut akan berpikiran atau berangggapan yang negatif terhadap dirinya sendiri. Seperti misalnya, "pasti saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik"; "pasti saya berhenti mengerjakan pekerjaan tersebut di tengah jalan"; "pasti hasilnya tidak memuaskan"; "pasti saya dicemooh orang banyak"; dan sebagainya.

Kecemasan sampai pada batas tertentu merupakan hal yang normal bagi setiap orang. Mungkin seseorang merasa khawatir akan sesuatu atau orang lain karena ia pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan pada kejadian serupa dimasa lampau. Kecemasan dalam taraf "normal" dapat berfungsi sebagai system alarm yang memberikan tanda-tanda bahaya bagi seseorang yang mengalaminya untuk dapat lebih siap menghadapi keadaan yang akan muncul (Gunarsa dkk., 1996).

Penderita kecemasan sering mengalami gejala-gejala seperti berkeringat berlebihan walaupun udara tidak panas dan bukan karena berolahraga, jantung berdegup ekstra cepat atau terlalu keras, dingin pada tangan atau kaki, mengalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran dan lain-lain. Mereka juga sering mengeluh pada persendian, kaku otot, cepat merasa lelah, tidak mampu rileks, sering terkejut, dan ada kalanya disertai gerakan-gerakan wajah atau anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi berlebihan, misalnya pada saat duduk terus menerus, menggoyang-goyangkan kaki, meregangkan leher, mengernyitkan dahi dan lain-lain (Gunarsa dkk., 1996).

Tanggapan individu yang sehat terhadap diri dan kehidupannya merupakan landasan dasar untuk dapat menyesuaikan diri. Faktor konsep diri perlu juga dipertimbangkan dalam menentukan berhasil tidaknya penyesuaian diri seseorang. Dengan kata lain konsep diri merupakan hal yang sangat mempengaruhi penyesuaian diri dan merupakan faktor penting dalam perkembangan diri seseorang.

Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang disiswai dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain (Ritandiyono & Retnaningsih, 1996). Dalam berinteraksi ini setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diterima tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Jadi konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain.

Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi seseorang dengan orang-orang disekitarnya. Apa yang dipersepsi seseorang tentang dirinya, tidak terlepas dari struktur, peran dan status sosial yang disandang orang tersebut. Struktur, peran dan status sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya interaksi antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.

Adanya struktur, peran dan status sosial yang menyertai seluruh perilaku individu dipengaruhi oleh faktor sosial. Adanya pengaruh faktor sosial terhadap perkembangan konsep diri individu telah dibuktikan oleh Rosenberg (Pudjijogyanti, 1988). Dijelaskan bahwa perkembangan konsep diri tidak terlepas dari pengaruh faktor sosial, agama, ras. Dijelaskan bahwa individu yang berstatus sosial yang tinggi akan mempunyai konsep diri yang lebih positif dibandingkan individu yang berstatus sosial rendah. Individu dewasa mengalami kesulitan untuk menggabungkan diri dengan satu kelompok sosial tertentu yang cocok dengan dirinya. Salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh individu dewasa adalah menjadi bagian dari satu kelompok sosial tertentu.

Untuk itulah penulis merasa terpanggil untuk meneliti tentang pengaruh konsep diri, sikap siswa pada matematika dan kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.


 

PERUMUSAN MASALAH

Sebagai panduan dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Adakah pengaruh langsung konsep diri terhadap hasil belajar matematika?
  2. Adakah pengaruh tidak langsung konsep diri terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan?
  3. Adakah pengaruh tidak langsung sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan?
  4. Adakah pengaruh langsung kecemasan terhadap hasil belajar matematika?
  5. Adakah pengaruh langsung konsep diri terhadap sikap siswa pada matematika?


     

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Konsep Diri

Lussier menyatakan "your self-concept is your overall attitude about yourself". (dalam arti bebas, konsep dirimu adalah keseluruhan sikap tentang dirimu sendiri. Lussier menambahkan bahwa "self-concept is your perception of yourself, which may not be the way others perceive you". Konsep diri adalah persepsi kamu tentang dirimu sendiri, yang mana tidak ada cara yang lain untuk mempersepsikan dirimu. Sehingga, individu memikirkan dan merasakan tentang dirinya sendiri termasuk keyakinan dan sikapnya mengenai individu tersebut.

Konsep diri pada dasarnya terdiri dari dua komponen yang meliputi citra diri (self-image) yang merupakan deskripsi sederhana mengenai diri kita, serta harga diri (self-esteem) yang merupakan suatu kesatuan kepercayaan yang selalu kita bawa kemana-mana yang telah kita terima kebenarannya terlepas dari apakah itu benar atau tidak.

Citra fisik diri biasanya terbentuk pertama kali dan berkaitan dengan penampilan fisik, daya tariknya dan kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan jenis kelaminnya, serta pentingnya berbagai bagian tubuh untuk perilaku dan harga diri seseorang di mata yang lain. Sedangkan citra psikologis didasarkan atas pikiran, perasaan dan emosi yang berhubungan dengan kualitas dan kemampuan yang mempengaruhi penyesuaian pada kehidupan, sifat-sifat seperti keberanian, kejujuran, kemandirian dan kepercayaan diri serta berbagai jenis aspirasi dan kemampuan. Untuk faktor sosial berkaitan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, peranan dan pengalaman masa lalu.

Sehingga, konsep diri dalam penelitian ini merupakan pandangan, perasaan dan penilaian yang dimiliki seseorang mengenai diri sendiri yang didapat dari proses pengamatan terhadap diri sendiri maupun menurut persepsi orang lain berupa karakteristik fisik, psikologis dan sosial.


 

  1. Sikap Siswa pada Matematika

Sikap merupakan bagian dari kepribadian seseorang, oleh karenanya sangatlah sulit untuk menelaahnya. Meskipun demikian beberapa teori mencoba menerangkan bagaimana pembentukan perubahan sikap tersebut. Salah satu teori yang sering digunakan bahwa sikap akan "mencari kesesuaian" antara kepercayaan dan perasaan mereka terhadap objek, dan menyarankanbahwa perubahan sikap tergantung dari salah satu perasaan (feelings) atau kepercayaan (beliefs).

Sikap bersumber dari orang tua, guru dan anggota kelompok rekan sekerja. Senada dengan hal tersebut Kartono mengatakan sikap dapat bersumber dari keluarga, kelompok-kelompok agama, kelompok sekunder dan kelompok primer lainnya, pengalaman pribadi dan kebudayaan bangsa sendiri. Sikap sebenarnya daat saja merupakan faktor bawaan, artinya sikap yang dimiliki oleh seseorang mempunyai kecenderungan dengan sikap orang tuanya. Selain sumber sikap dari orang tua (keluarga), tentu saja guru akan menjadi sumber sikap yang dominan sehingga banyak siswa memodelkan sikap gurunya. Tampilan guru yang simpatik akan menjadi rujukan sikap bagi siswanya oleh sebab itu guru dituntut bersikap positif dan simpatik. Selanjutnya sikap akan terbentuk dari lingkungan, dalam hal ini seseorang selalu bersosialisasi dengan lingkungan (teman sekerja, teman kelompok, dan lain-lain).

Sikap berkaitan dengan segala sesuatu yang pernah dialami atau pengalaman seseorang tersebut baik itu berasal dari keluarga, lingkungan organisasi maupun lingkungan masyarakat luas. Sikap juga erat kaitannya dengan kepribadian seseorang, artinya ada penyesuaian antara harapan dengan kenyataan yang diperoleh. Sikap positif dan negatif dapat keluar dari seseorang tergantung kepada bagaimana seseorang menyikapi harapan dan kenyataan, sikap positif dan negatif juga dipengaruhi sejauhmana pengalaman-pengalaman dari seseorang itu dapat manjadi sebuah pelajaran.

Sehingga, sikap tentang pelajaran Matematika adalah perasaan terhadap matematika, kesediaan untuk mempelajari, dan kesadaran terhadap manfaat matematika.


 

  1. Kecemasan Siswa

Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam dan menekan (Pangaribuan, 2001). Misalnya saja, apabila seseorang ingin melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut, apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya.

Kecemasan sampai pada batas tertentu merupakan hal yang normal bagi setiap orang. Mungkin seseorang merasa khawatir akan sesuatu atau orang lain karena ia pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan pada kejadian serupa dimasa lampau. Kecemasan dalam taraf "normal" dapat berfungsi sebagai system alarm yang memberikan tanda-tanda bahaya bagi seseorang yang mengalaminya untuk dapat lebih siap menghadapi keadaan yang akan muncul (Gunarsa dkk., 1996).

Kirkland (1971:189) membuat suatu kesimpulan mengenai hubungan antara tes, kecemasan, dan hasil belajar:

  1. Tingkat kecemasan yang sedang biasanya mendorong belajar, sedang tingkat kecemasan yang tinggi mengganggu belajar;
  2. Siswa-siswa dengan tingkat kecemasan yang rendah lebih merasa cemas dalam menghadapi tes daripada siswa-siswa yang pandai;
  3. Bila siswa cukup mengenal jenis tes yang akan dihadapi, maka kecemasan akan berkurang;
  4. Pada tes-tes yang mengukur daya ingat, siswa-siswa yang sangat cemas memberikan hasil yang lebih baik daripada siswa-siswa yang kurang cemas. Pada tes-tes yang membutuhkan cara berpikir yang fleksibel, siswa-siswa yang sangat cemas hasilnya lebih buruk;
  5. Kecemasan terhadap tes bertambah bila hasil tes dipakai untuk menentukan tingkat-tingkat siswa.

Gejala kecemasan ada dalam bermacam-macam bentuk dan kompleksitasnya, namun biasanya cukup mudah dikenali. Seseorang yang mengalami kecemasan cenderung untuk terus menerus merasa khawatir akan keadaan yang buruk yang akan menimpa dirinya atau diri orang lain yang dikenalnya dengan baik. Biasanya seseorang yang mengalami kecemasan cenderung tidak sadar, mudah tersinggung, sering mengeluh, sulit berkonsentrasi dan mudah terganggu tidurnya atau mengalami kesulitan untuk tidur (Gunarsa dkk., 1996).

Penderita kecemasan sering mengalami gejala-gejala seperti berkeringat berlebihan walaupun udara tidak panas dan bukan karena berolahraga, jantung berdegup ekstra cepat atau terlalu keras, dingin pada tangan atau kaki, mengalami gangguan pencernaan, merasa mulut kering, merasa tenggorokan kering, tampak pucat, sering buang air kecil melebihi batas kewajaran dan lain-lain. Mereka juga sering mengeluh pada persendian, kaku otot, cepat merasa lelah, tidak mampu rileks, sering terkejut, dan ada kalanya disertai gerakan-gerakan wajah atau anggota tubuh dengan intensitas dan frekuensi berlebihan, misalnya pada saat duduk terus menerus, menggoyang-goyangkan kaki, meregangkan leher, mengernyitkan dahi dan lain-lain (Gunarsa dkk., 1996).

Kondisi-kondisi yang menekan dapat menimbulkan kecemasan. Contohnya, terdapat pada situasi ketika menghadapi sebuah ujian, seperti ujian kelulusan, ujian masuk perguruan tinggi dan sebagainya. Juga terlihat pada situasi persidangan, wawancara pada saat melamar kerja, perlombaan-perlombaan, seperti lomba nyanyi, lomba pidato, lomba puisi dan sebagainya. Selain itu, dapat pula terlihat pada situasi menghadapi sebuah pertandingan olahraga, khususnya olahraga prestasi.

Sehingga, kecemasan dalam penelitian ini adalah perasaan khawatir dan takut yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran berlebihan yang dialami siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Kecemasan ini akan dibagi dalam beberapa indikator, yaitu perubahan gejala emosional (tegang otot, denyut jantung, pusing, gangguan pernafasan), perubahan psikologis (mudah tersinggung, sering mengeluh, sulit konsentrasi, sulit tidur, gelisah dan rendah diri), perubahan aktifitas fisik (mual, keringat berlebih, pucat, mulut terasa kering, sering buang air, menggoyang-goyangkan kaki, dll) dan menghindari tempat atau situasi tertentu.


 

  1. Hasil Belajar Matematika

Nasution dalam bukunya yang berjudul Didaktik Azas-azas Mengajar, mengatakan: "Belajar adalah mengubah kelakuan anak, jadi mengenai pembentukan pribadi anak. Hasil-hasil yang diharapkan bukan hanya bersifat pengetahuan, akan tetapi juga pemahaman, perluasan minat, penghargaan norma-norma, kecakapan jadi meliputi seluruh pribadi anak".

Menurut Slamento dalam buku Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya mengatakan bahwa: "Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya".

Sedangkan pendapat Cronbach yang dikutip Suryabrata, dalam buku Psikologi Pendidikan: "Learning is shown by a change in behavior as a result of experience"

Matematika merupakan alat bantu yang efisien dan diperlukan oleh setiap ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-haripun manusia banyak menggunakan matematika sebagai alat bantu dalam melaksankan kegiatan misalnya mengatur komposisi pupuk, jual beli, memasak dan lain-lain. Matematika diperlukan oleh setiap bidang ilmu pengetahuan, terlebih lagi dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan. Sejalan dengan ini, Suriasumantri dalam bukunya berpendapat: "Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif".

Dalam makalahnya, Suparman menjelaskan:

"Matematika murni lebih abstrak, indah dalam berbagai pembuktian-pembuktian teori, dan terkadang menjadi sangat kompleks, dan melenakan para ahlinya. Terkadang hingga lupa segalanya karena matematika murni lebih indah dari segala rupa di sekelilingnya. ... Matematika terapan membantu analisis disiplin lainnya misalnya menyelesaikan masalah dalam physics, chemistry, biology, medicine, engineering, technology, economics, mekanics, and information theory."

Hasil belajar matematika pada penelitian ini adalah perubahan-perubahan tingkah laku siswa sebagai indikator tingkat ketercapaian tujuan belajar matematika dalam penguasaan struktur kognitif berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi setelah mendapatkan pengalaman belajar di bidang matematika.


 

KERANGKA BERPIKIR

  1. Pengaruh langsung antara konsep diri siswa terhadap hasil belajar matematika siswa.

Konsep diri merupakan pandangan, perasaan dan penilaian yang dimiliki oleh seseorang mengenai diri sendiri yang diperoleh dari proses pengamatan terhadap diri sendiri maupun menurut persepsi orang lain. Biasanya hasil pengamatan tersebut berupa karakteristik fisik, psikologis dan sosial. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, tentunya akan menghargai setiap bagian hidupnya, mulai dari fisik, karakter psikologis bahkan sosial. Dan pada akhirnya, mereka yang mampu menghargai dirinya akan mampu memberikan nilai tambah yang besar bagi masa depannya.

Hasil belajar matematika merupakan perubahan-perubahan tingkah laku, yaitu perubahan ke arah pemahaman yang lebih dalam tentang materi dan esensi pelajaran matematika. Perubahan ini berupa pemahaman terhadap konsep-konsep matematika dan juga kemampuan menggeneralisasikan berbagai bentuk pengetahuan setelah memperoleh pengalaman belajar matematika. Hasil belajar matematika yang baik tidak diperoleh begitu saja, semuanya butuh perjuangan, bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Faktanya, hanya mereka yang mampu mempertahankan eksistensinya, dalam arti memiliki kepercayaan diri yang kuat, yang mampu memiliki hasil belajar yang baik.

Sehingga diduga terdapat pengaruh langsung yang positif antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika. Atau dengan kata lain, hasil belajar matematika akan tinggi jika seseorang memiliki konsep diri yang baik dan sebaliknya, hasil belajar matematika akan rendah jika seseorang memiliki konsep diri yang buruk.


 

  1. Pengaruh tidak langsung antara konsep diri siswa terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan.

Konsep diri merupakan pandangan, perasaan dan penilaian yang dimiliki oleh seseorang mengenai diri sendiri yang diperoleh dari proses pengamatan terhadap diri sendiri maupun menurut persepsi orang lain. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, tentunya akan menghargai setiap bagian hidupnya, mulai dari fisik, karakter psikologis bahkan sosial. Dan pada akhirnya, mereka yang mampu menghargai dirinya akan mampu memberikan nilai tambah yang besar bagi masa depannya.

Kecemasan adalah perasaan khawatir dan takut yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran berlebihan yang dialami siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Kecemasan biasanya terlihat pada perubahan gejala emosional, perubahan psikologis, perubahan aktifitas fisik dan biasanya orang yang cemas akan menghindari tempat atau situasi tertentu.

Hasil belajar matematika merupakan perubahan-perubahan tingkah laku, yaitu perubahan ke arah pemahaman yang lebih dalam tentang materi dan esensi pelajaran matematika. Perubahan ini berupa pemahaman terhadap konsep-konsep matematika dan juga kemampuan menggeneralisasikan berbagai bentuk pengetahuan setelah memperoleh pengalaman belajar matematika. Hasil belajar matematika yang baik tidak diperoleh begitu saja, semuanya butuh perjuangan, bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Faktanya, hanya mereka yang mampu mempertahankan eksistensinya, dalam arti memiliki kepercayaan diri yang kuat, yang mampu memiliki hasil belajar yang baik.

Kecemasan dalam tingkatan tertentu dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar seseorang, akan tetapi jika berlebihan akan memberikan dampak negatif terhadap hasil belajar. Hubungannya dengan konsep diri, biasanya orang yang memiliki konsep diri yang baik akan mampu mengelola kecemasan dalam dirinya sehingga memberikan dampak yang baik bagi dirinya.

Sehingga diduga terdapat pengaruh tidak langsung konsep diri terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan. Artinya hasil belajar seseorang akan tinggi jika konsep dirinya baik serta mampu mengelola kecemasannya, sebaliknya hasil belajar seseorang akan rendah jika konsep dirinya buruk dan akhirnya tidak mampu mengelola tingkat kecemasannya.


 

  1. Pengaruh tidak langsung antara sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan.

Sikap siswa pada pelajaran Matematika adalah cara pandang siswa terhadap pelajaran matematika. Sikap siswa pada pelajaran matematika meliputi perasaan terhadap matematika, kesediaan untuk mempelajari, dan kesadaran terhadap manfaat matematika.

Kecemasan dalam tingkatan tertentu dapat memberikan dampak positif terhadap hasil belajar seseorang, akan tetapi jika berlebihan akan memberikan dampak negatif terhadap hasil belajar. Hubungannya dengan konsep diri, biasanya orang yang memiliki konsep diri yang baik akan mampu mengelola kecemasan dalam dirinya sehingga memberikan dampak yang baik bagi dirinya.

Hasil belajar matematika merupakan perubahan-perubahan tingkah laku, yaitu perubahan ke arah pemahaman yang lebih dalam tentang materi dan esensi pelajaran matematika. Perubahan ini berupa pemahaman terhadap konsep-konsep matematika dan juga kemampuan menggeneralisasikan berbagai bentuk pengetahuan setelah memperoleh pengalaman belajar matematika. Hasil belajar matematika yang baik tidak diperoleh begitu saja, semuanya butuh perjuangan, bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Faktanya, hanya mereka yang mampu mempertahankan eksistensinya, dalam arti memiliki kepercayaan diri yang kuat, yang mampu memiliki hasil belajar yang baik.

Siswa yang memiliki sikap yang baik terhadap pelajaran matematika, biasanya akan memiliki hasil belajar yang baik pula, sekalipun ia menghadapi hal-hal baru dalam pelajaran matematika yang membuat dirinya cemas. Sehingga diduga, ada pengaruh tidak langsung yang positif antara sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan siswa.


 

  1. Pengaruh langsung antara kecemasan terhadap hasil belajar matematika siswa.

Kecemasan adalah perasaan khawatir dan takut yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran berlebihan yang dialami siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Kecemasan ini akan dibagi dalam beberapa indikator, yaitu perubahan gejala emosional, perubahan psikologis, perubahan aktifitas fisik dan menghindari tempat atau situasi tertentu.

Fakta terakhir mengenai kecemasan adalah saat siswa, guru dan orang tua menghadapi UN. Dalam moment ini seluruh unsur pendidikan di sekolah mengalami kecemasan yang luar biasa, mereka takut kalau siswa di sekolah tidak mampu lulus UN. Sehingga, semua cara dilakukan, misalnya memberikan pelajaran tambahan kepada anak didik dan hasilnya ternyata cukup menggembirakan, artinya berhasil membawa anak didik mereka lulus UN.

Hasil belajar matematika merupakan perubahan-perubahan tingkah laku, yaitu perubahan ke arah pemahaman yang lebih dalam tentang materi dan esensi pelajaran matematika. Perubahan ini berupa pemahaman terhadap konsep-konsep matematika dan juga kemampuan menggeneralisasikan berbagai bentuk pengetahuan setelah memperoleh pengalaman belajar matematika. Hasil belajar matematika yang baik tidak diperoleh begitu saja, semuanya butuh perjuangan, bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Faktanya, hanya mereka yang mampu mempertahankan eksistensinya, dalam arti memiliki kepercayaan diri yang kuat, yang mampu memiliki hasil belajar yang baik.

Dari uraian di atas, diduga bahwa kecemasan berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika. Artinya, hasil belajar matematika siswa akan tinggi jika kecemasannya tinggi, dan sebaliknya hasil belajar matematika siswa akan rendah jika kecemasannya rendah.


 

  1. Pengaruh langsung antara konsep diri siswa terhadap sikap siswa pada matematika.

Konsep diri merupakan pandangan, perasaan dan penilaian yang dimiliki oleh seseorang mengenai diri sendiri yang diperoleh dari proses pengamatan terhadap diri sendiri maupun menurut persepsi orang lain. Biasanya hasil pengamatan tersebut berupa karakteristik fisik, psikologis dan sosial. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, tentunya akan menghargai setiap bagian hidupnya, mulai dari fisik, karakter psikologis bahkan sosial. Dan pada akhirnya, mereka yang mampu menghargai dirinya akan mampu memberikan nilai tambah yang besar bagi masa depannya.

Sikap siswa pada pelajaran Matematika adalah cara pandang siswa terhadap pelajaran matematika. Sikap siswa pada pelajaran matematika meliputi perasaan terhadap matematika, kesediaan untuk mempelajari, dan kesadaran terhadap manfaat matematika.

Konsep diri yang baik akan dapat memberikan cara pandang yang baik terhadap banyak hal, termasuk matematika. Sehingga diduga ada pengaruh positif antara konsep diri terhadap sikap siswa pada pelajaran Matematika, artinya sikap siswa pada matematika akan positif jika memiliki konsep diri yang baik dan sebaliknya sikap siswa pada matematika akan negatif jika memiliki konsep diri yang buruk.


 

HIPOTESIS PENELITIAN

Dari uraian di atas, penulis mencoba mengajukan beberapa hipotesis sebagai berikut:

  1. Ada pengaruh langsung konsep diri terhadap hasil belajar matematika.
  2. Ada pengaruh tidak langsung konsep diri terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan.
  3. Ada pengaruh tidak langsung sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan.
  4. Ada pengaruh langsung kecemasan terhadap hasil belajar matematika.
  5. Ada pengaruh langsung konsep diri terhadap sikap siswa pada matematika.


 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini diadakan di wilayah DKI Jakarta, jenjang pendidikan yang diteliti adalah Sekolah Menengah Pertama. Teknik sampling yang digunakan adalah menggunakan cluster area yang dikombinasikan dengan random sampling, dimana diambil sekolah-sekolah secara acak dari pembagian wilayah di DKI Jakarta. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 siswa. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan.

Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis jalur, dimana sebuah jalur akan dikatakan signifikan jika nilai koefisien jalurnya > 0,05.

Untuk memberikan gambaran yang jelas, maka dapat digambarkan sebagai berikut:

X1    : Konsep Diri

X2    : Sikap Siswa pada Matematika

X3    : Kecemasan Siswa

X4    : Hasil Belajar Matematika Siswa


 

HASIL PENELITIAN

Uji Persyaratan Analisis

Sebagai syarat untuk melanjutkan analisis data, maka perlu dilakukan uji kenormalan data, dimana hasilnya sebagai berikut:


 

 


 

 

Dari tabel hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS di atas, terlihat bahwa nilai signifikansi secara keseluruhan < 0,05; sehingga dapat dikatakan bahwa data tidak berdistribusi normal. Untuk itu, untuk analisis selanjutnya akan digunakan teknik statistik non parametrik.


 

Korelasi Kendal's Tau

Mengingat data yang tidak berdistribusi normal, maka untuk menghitung besar korelasi antar variabel digunakan Korelasi Kendal's Tau, yang hasilnya sebagai berikut:


 


 

 

Korelasi 

X1

X2

X3

X4

X1

1 

0,074 

-0,046 

0,076 

X2

0,074 

1 

-0,008 

0,047 

X3

-0,046 

0,076 

1 

-0,052 

X4

-0,008 

0,047 

-0,052 

1 


 

 

Selanjutnya akan dihitung koefisien masing-masing jalur, dengan persamaan sebagai berikut:

r12 = P21

r13 = P31 + P32r21

r23 = P31r12 + P32

r14 = P41 + P42r21 + P43r31

r24 = P41r12 + P42 + P43r32

r34 = P41r31 + P42r32 + P43


 

Dari hasil perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut:

P21    = 0,074

P31    = -0,0456 ~ - 0,046

P32    = -0,0045

P41    = 0,0707

P42    = 0,0414

P43    = -0,0484


 

Dari keseluruhan hasil perhitungan di atas diperoleh diagram jalur sebagai berikut:


 


 


 

 

UJI HIPOTESIS

Hipotesis 1

H0    :    P41 < 0,05    à    tidak ada pengaruh langsung antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika siswa

H1    :    P41 > 0,05    à    ada pengaruh langsung antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika siswa


 

Kriteria pengujian:

Terima H0 dan tolak H1 jika P41 < 0,05

Tolak H0 dan terima H1 jika P41 > 0,05


 

Dari diagram di atas terlihat bahwa koefisien korelasi antara X1 dan X4 adalah 0,076 dan koefisien pengaruh (P41) sebesar 0,07; sehingga dapat disimpulkan :

Tolak H0 dan terima H1 karena P41 > 0,05.

Atau dengan kata lain jalur dari X1 ke X4 signifikan.


 

Uji Hipotesis 2

H0    :    P31.P43 < 0,05    à    tidak ada pengaruh tidak langsung antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan siswa

H1    :    P31.P43 > 0,05    à    ada pengaruh tidak langsung antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan siswa


 

Kriteria pengujian:

Terima H0 dan tolak H1 jika P31.P43 < 0,05

Tolak H0 dan terima H1 jika P31.P43 > 0,05


 

Dari diagram di atas terlihat bahwa koefisien korelasi antara X1 dan X3 adalah -0,046 dan koefisien pengaruh (P31) sebesar -0,046; serta koefisien korelasi antara X3 dan X4 adalah -0,052 dan koefisien pengaruh (P43) sebesar -0,048; sehingga didapat koefisien pengaruh tidak langsung antara X1 terhadap X4 melalui X3 :

P31.P43 = (-,0,046) . (-0,052) = 0,002392

Sehingga dapat disimpulkan bahwa:

Terima H0 dan tolak H1 karena P31.P43 < 0,05.

Atau dengan kata lain jalur dari X1 ke X4 melalui X3 non-signifikan.


 

Uji Hipotesis 3

H0    :    P32.P43 < 0,05    à    tidak ada pengaruh langsung antara sikap siswa pada Matematika terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan siswa

H1    :    P32.P43 > 0,05    à    ada pengaruh langsung antara sikap siswa pada Matematika terhadap hasil belajar matematika siswa melalui kecemasan siswa


 

Kriteria pengujian:

Terima H0 dan tolak H1 jika P32.P43 < 0,05

Tolak H0 dan terima H1 jika P32.P43 > 0,05


 

Dari diagram di atas terlihat bahwa koefisien korelasi antara X2 dan X3 adalah -0,008 dan koefisien pengaruh (P32) sebesar -0,0045; serta koefisien korelasi antara X3 dan X4 adalah -0,052 dan koefisien pengaruh (P43) sebesar -0,048; sehingga didapat koefisien pengaruh tidak langsung antara X2 terhadap X4 melalui X3 :

P32.P43 = (-,0,0045) . (-0,052) = 0,000234

Sehingga dapat disimpulkan bahwa:

Terima H0 dan tolak H1 karena P32.P43 < 0,05.

Atau dengan kata lain jalur dari X2 ke X4 melalui X3 non-signifikan.


 

Uji Hipotesis 4

H0    :    P43 < 0,05    à    tidak ada pengaruh langsung antara kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa

H1    :    P43 > 0,05    à    ada pengaruh langsung antara kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika siswa


 

Kriteria pengujian:

Terima H0 dan tolak H1 jika P43 < 0,05

Tolak H0 dan terima H1 jika P43 > 0,05


 

Dari diagram di atas terlihat bahwa koefisien korelasi antara X3 dan X4 adalah -0,052 dan koefisien pengaruh (P43) sebesar -0,048; sehingga dapat disimpulkan :

Terima H0 dan tolak H1 karena P41 < 0,05.

Atau dengan kata lain jalur dari X3 ke X4 non-signifikan.


 

Uji Hipotesis 5

H0    :    P21 < 0,05    à    tidak ada pengaruh langsung antara konsep diri terhadap sikap siswa pada Matematika

H1    :    P21 > 0,05    à    ada pengaruh langsung antara konsep diri terhadap sikap siswa pada Matematika


 

Kriteria pengujian:

Terima H0 dan tolak H1 jika P21 < 0,05

Tolak H0 dan terima H1 jika P21 > 0,05


 

Dari diagram di atas terlihat bahwa koefisien korelasi antara X1 dan X2 adalah 0,074 dan koefisien pengaruh (P21) sebesar 0,074; sehingga dapat disimpulkan :

Tolak H0 dan terima H1 karena P21 > 0,05.

Atau dengan kata lain jalur dari X1 ke X2 signifikan.


 

KESIMPULAN

  1. Hasil penelitian memberikan hasil signifikan, walaupun nilainya tidak terlalu besar akan tetapi hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara konsep diri siswa terhadap hasil belajar matematika siswa. Atau dengan kata lain, siswa yang memiliki kepercayaan diri dan persepsi serta cara pandang yang positif tentang dirinya sendiri akan mampu meningkatkan hasil belajar matematika. Persepsi dan cara pandang tersebut perlu dibangun dan dikembangkan, baik secara internal maupun eksternal, sehingga sudah seharusnya siswa secara pribadi menghargai seluruh aspek kehidupannya, serta sudah seharusnya juga seluruh elemen di luar diri siswa (termasuk guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat) memberikan penghargaan dan apresiasi yang optimal sehingga siswa dapat membangun konsep diri yang positif.
  2. Hasil penelitian memberikan hasil non-signifikan, yang artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara konsep diri terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan siswa. Di sisi lain, bila diperhatikan secara parsial ternyata konsep diri juga tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan siswa, yang artinya semakin baik konsep diri siswa maka siswa akan semakin mampu untuk mengontrol tingkat kecemasannya, atau semakin baik konsep diri maka semakin rendah tingkat kecemasan siswa.

        Di bagian berikutnya, secara parsial juga ternyata kecemasan siswa juga tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, yang artinya semakin tinggi kecemasan siswa maka semakin rendah hasil belajar matematika siswa, sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa konsep diri tidak memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar jika melalui kecemasan siswa.

  3. Hasil penelitian memberikan hasil non-signifikan, yang artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara sikap siswa pada matematika terhadap hasil belajar matematika melalui kecemasan siswa. Di sisi lain, bila diperhatikan secara parsial ternyata sikap siswa pada matematika juga tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan siswa, yang artinya semakin baik sikap siswa pada matematika maka siswa akan semakin mampu untuk mengontrol tingkat kecemasannya, atau semakin baik sikap siswa pada matematika maka semakin rendah tingkat kecemasan siswa.

        Di bagian berikutnya, secara parsial juga ternyata kecemasan siswa juga tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, yang artinya semakin tinggi kecemasan siswa maka semakin rendah hasil belajar matematika siswa, sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa sikap siswa pada matematika tidak memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar jika melalui kecemasan siswa.

  4. Hasil penelitian memberikan hasil non-signifikan, yang artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara kecemasan siswa terhadap hasil belajar matematika. Hasil ini membuktikan kecemasan siswa tidak memberikan pengaruh bagi peningkatan hasil belajar matematika, atau dengan kata lain semakin tinggi kecemasan siswa maka semakin rendah hasil belajar matematikanya dan sebaliknya semakin rendah kecemasan siswa maka semakin tinggi hasil belajar matematika siswa.

        Atau di bagian lain, penelitian ini berhasil menemukan bahwa terdapat pengaruh negatif kecemasan terhadap hasil belajar matematika, sehingga siswa yang mampu mengontrol tingkat kecemasannya akan berhasil dalam belajar matematika.

  5. Hasil penelitian memberikan hasil signifikan, walaupun nilainya tidak terlalu besar akan tetapi hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara konsep diri siswa terhadap sikap siswa pada matematika. Atau dengan kata lain, siswa yang memiliki kepercayaan diri dan persepsi serta cara pandang yang positif tentang dirinya sendiri akan mampu memperbaiki sikapnya pada matematika. Persepsi dan cara pandang tersebut perlu dibangun dan dikembangkan, baik secara internal maupun eksternal, sehingga sudah seharusnya siswa secara pribadi menghargai seluruh aspek kehidupannya, serta sudah seharusnya juga seluruh elemen di luar diri siswa (termasuk guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat) memberikan penghargaan dan apresiasi yang optimal sehingga siswa dapat membangun konsep diri yang positif.


 


 

SARAN

  1. Siswa sebagai individu harus berusaha menghargai hidup dan kehidupannya, termasuk potensi yang dimilikinya sehingga dapat memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan ke depan. Guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai orang terdekat siswa juga harus berusaha memberikan penghargaan yang cukup kepada siswa dalam rangka peningkatan konsep diri siswa yang dampaknya akan meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
  2. Guru sebagai unsur terdepan dalam proses pembelajaran harus memperhatikan tingkat kecemasan siswa. Dengan kata lain, guru harus dapat mengarahkan siswa agar mampu mengontrol tingkat kecemasannya, sehingga dampaknya dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
  3. Seluruh elemen pendidikan, siswa, orangtua, guru dan pemerintah harus mengupayakan agar siswa memiliki sikap yang positif terhadap matematika, karena dengan memiliki sikap yang positif terhadap matematika diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
  4. Seluruh elemen pendidikan juga dapat mengontrol tingkat kecemasan siswa, artinya siswa tidak boleh diberikan situasi atau keadaan yang dapat meningkatkan kecemasannya, karena dampaknya akan menurunkan hasil belajar matematika.
  5. Siswa dan guru harus mampu mengembangkan suatu suasana pendidikan yang kondusif dimana siswa mampu meningkatkan konsep dirinya yang pada akhirnya mampu membangkitkan sikap yang positif terhadap matematika.


 

DAFTAR PUSTAKA

Slameto, 1991, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004

Jujun S. Suriasumantri, 1993, Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer), Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Kartono Kartini, Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri (Jakarta: Rajawali Press, 1994)

Robert N. Lussier. Human Relations In Organizations: A Skill-Building Approach, Third Edition. (USA: Mc. Graw Hill Companies, Inc., 1996)

B. Sandjaya & Albertus Heriyanto, Panduan Penelitian. (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006).

J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996).

Purbayu Budi Santosa & Ashari, Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS. (Yogyakarta: ANDI, 2005).

Purwanto, Ngalim, Teknik-Teknik Evaluasi. (Jakarta: Nasco, 1982).

Roestiyah, N. K. Masalah-Masalah Ilmu Keguruan. (Jakarta: Bina Aksara, 1982)..

Santoso, Singgih, SPSS Statistik Parametrik. (Jakarta : PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia, 2000).

Sudjana, Metoda Statistika Edisi 6. (Bandung: Tarsito, 2005).

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. (Bandung: Alfabeta, 2007).

Tim Dosen, Modul Laboratorium Analisis Kuantitatif. (Jakarta: Universitas Trisakti).

Tuesday, October 28, 2008

Tips Bagi Guru, Dosen atau Pelatih

Anda seorang guru, dosen atau pelatih? Mungkin, beberapa tips berikut akan bermanfaat bagi Anda. Mari kita lihat!

Tips #1: Kuasai Materi Secara Komprehensif
Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya diminta berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga, jujur saya tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment. Tapi ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan, katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul tentang hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan mampu memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau kita tidak benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci pertama, menguasai materi.

Tips #2: Libatkan Peserta Secara Aktif
Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan, atau mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja yang harus saya siapkan agar peserta terlibat aktif.” Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara aktif, ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada dasarnya telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara sehingga terpukau (hypnoteaching) . Ada ungkapan mengatakan bahwa, “We can teach fast, but they can forget it much more faster!”. Jadi, upayakan janga selalu terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.

Tips #3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta
Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak hanya itu, akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam pembelajaran. Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, “Baik Bapak dan ibu sekalian, sesi ini kita akan ,……………”. Basa-basi, kalau perlu dengan guyon terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh. Saya biasa menyiapkan “ice breaker” yang lucu sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan.

Tips #4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya
Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam membangun komitmen atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama. Misalnya, bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau tertentu dan lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman, tapi karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat membantu, dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini adalah salah satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.

Tips #5: Yakini Bahwa Manusi Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain

Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.

Tips #6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu

Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini. dalam artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak mungkin mampu mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.

Tips #7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif

Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.

Tips #8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual

Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti dalam pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun harus berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.

Tips #9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif

Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu.

Tips #10: Tingkatkan Jam Terbang

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. Sembilan tips di atas akan sempurna dengan senjata pamungkas nomor sepuluh ini.
Semoga bermanfaat

(Sumber sebagian diambil dari “Principle of Effective Teaching and Learning, University of Toronto , 1990

Just For Laugh...3

CAPE DECH....

Boss bicara dengan sekretarisnya: "Seminggu kita pergi untuk perjalanan dinas,tolong siap-siap."
Sekretaris telepon suaminya: "Mas, saya mau berangkat untuk perjalanandinas, hati-hati di rumah ya."
Suami telepon kekasih gelapnya: "Istriku mau berangkat seminggu, kau adawaktu?"
Kekasih gelap bilang terhadap anak kursusnya: "Nak, ibu punya banyakkerjaan selama seminggu, kursus ditiadakan selama seminggu."
Anak kursus bilang terhadap kakeknya: "Kek, seminggu tidak ada kursus,gurunya sibuk. Ayo kita jalan-jalan. "
Kakek (=Boss) telepon sekretarisnya: "Minggu ini saya mau jalan-jalan samacucu saya, meeting dibatalkan."
Sekretaris telepon suaminya: "Bossnya ada kerjaan rumah yang mendadak,tripnya dibatalkan Mas."
Suami bilang kekasih gelapnya: "Kau tak bisa datang, istriku tak jadipergi."
Kekasih gelap telepon anak kursusnya : "Nak, kursus minggu ini berjalanseperti biasa."
Anak kursus bilang sama kakeknya: "Kek, guruku bilang kursus berjalan normal. Kakek jalan sendiri aja."
Kakek bilang sama sekretarisnya: "Minggu ini kita atur perjalanan dinas lagi. Kamu siap-siap, yah!"
Cape deh ...

Milis Mahasiswa UNINDRA

Saturday, October 25, 2008

Struktur Laporan Penelitian



Secara umum laporan penelitian/skripsi di Universitas Indraprasta PGRI dapat dijabarkan sebagai berikut: (khususnya penelitian kuantitatif)

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bagian ini mengungkapkan alasan pemilihan judul. Bagian ini harus dijabarkan dari hal-hal yang sifatnya umum ke arah yang sifatnya khusus dan terakhir merupakan penegasan terhadap judul yang dipilih.
B. Identifikasi Masalah

Bagian mengungkapkan secara point per point setiap masalah yang muncul di bagian latar belakang. Idealnya setiap masalah dituliskan dengan menggunakan kalimat pernyataan (inventarisasi), walaupun tidak tertutup kemungkinan diperbolehkan dalam kalimat tanya.
C. Pembatasan Masalah

Bagian ini digunakan untuk memilih topik yang telah kita tentukan sebelumnya, yaitu sesuaikan masalah yang kita pilih dengan judul yang kita ambil. Pembatasan dilakukan terutama karena adanya keterbatasan dalam hal waktu, dana dan tenaga.
D. Perumusan Masalah

Bagian ini mengungkapkan masalah yang akan kita teliti dalam penelitian ini. Perumusan masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (atau lebih dikenal dengan nama "pertanyaan penelitian").
E. Tujuan Penelitian

Bagian ini mengungkapkan apa yang menjadi tujuan kita mengadakan penelitian, yaitu intinya menjawab masalah yang dirumuskan dalam perumusan masalah. Jadi, jangan pernah menuliskan tujuan penelitian kita adalah menyelesaikan program Sarjana. (Gawat...!!!)
F. Kegunaan Penelitian

Kegunaan di sini merupakan implikasi yang dapat digunakan baik secara teoritis maupun secara praktis oleh pihak-pihak yang lain yang membaca laporan penelitian kita.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Berisi seluruh teori dan pendapat-pendapat para ahli yang relevan dengan variabel yang kita teliti. Teori yang dituliskan di sini haruslah selengkap dan sedetail mungkin sehingga kita memiliki pijakan yang kuat dalam melaksanakan penelitian. Perlu diperhatikan bagaimana cara mengutip teori dari buku, majalah, jurnal dan lain-lainnya sehingga kita tidak dikatakan plagiat. Malu donk....
Kemudian, setelah teori kita anggap cukup, perlu dilakukan penarikan kesimpulan terhadap teori yang kita baca. Artinya kita menyimpulkan dengan bahasa kita sendiri variabel yang telah kita cari dasar pijakannya, termasuk juga indikator-indikator yang menyertainya.
B. Kerangka Berpikir

Di bagian ini kita menjabarkan hubungan antara masing-masing variabel yang kita teliti. Minimal untuk setiap kerangka berpikir terdiri dari 3 paragraf, dimana 1 paragraf untuk variabel pertama, 1 paragraf untuk variabel kedua dan 1 paragraf lagi untuk pendugaan variabel 1 terhadap variabel 2.
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang kita ajukan. Banyaknya jumlah hipotesis tergantung dari banyaknya rumusan masalah dan kerangka berpikir yang kita ajukan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian
Di bagian ini dijabarkan profil tempat penelitian serta berapa lama penelitian akan diadakan, termasuk jadwal rinci dengan langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan.
Jadwal diupayakan dibuat dalam bentuk tabel kerja.
1. Tempat Penelitian
2. Waktu dan Jadwal Penelitian
B. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Di sini dijabarkan jenis penelitian yang kita lakukan, bisa berupa survei atau eksperimen. Jelaskan pula definisi jenis penelitian yang kita lakukan.
2. Desain Penelitian

Di sini digambarkan desain penelitian yang kita lakukan. Ada yang berbentuk korelasi dan regresi sederhana, korelasi dan regresi ganda, analisis jalur, perbandingan 2 kelompok sampel, perbandingan 3 atau lebih kelompok sampel dengan interaksi, perbandingan 3 atau lebih kelompok sampel tanpa interaksi.

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi Target
Keseluruhan populasi yang ada di sebuah tempat penelitian. Misalnya SMP X, maka populasinya adalah seluruh siswa di SMP X.
2. Populasi Terjangkau
Bagian dari populasi target, dimana sudah diarahkan di kelas mana akan diambil sampel. Misalnya penelitian hanya untuk kelas 8, maka populasi terjangkaunya adalah seluruh siswa kelas 8 SMP X.
3. Sampel
Bagian kecil dari populasi terjangkau yang diambil menggunakan teknik sampling tertentu. Disampaikan pula berapa banyak sampel yang diambil serta teknik sampling yang digunakan untuk pengambilan sampel.

D. Metode Pengumpulan Data
1. Variabel Penelitian
Tuliskan seluruh variabel yang akan diteliti.
2. Sumber Data

Tuliskan dari siapa data diambil, untuk setiap variabel penelitian.
3. Teknik Pengumpulan Data

Tuliskan dengan media apa data dikumpulkan. Media ini bisa berupa instrumen tes atau non tes.
4. Instrumen Penelitian

Bagian ini dibagi menjadi:
a. Definisi Konseptual
Tuliskan konstruk yang telah kita buat di BAB II.
b. Definisi Operasional

Tuliskan konstruk yang telah kita buat di BAB II ditambah dengan cara kita untuk mendapatkan data. Misalnya, akan diukur dengan menggunakan angket berskala Likert berjumlah 25 soal.
c. Kisi-kisi

Tuliskan sesuai teori kisi-kisi dari setiap variabel. Dimana untuk setiap indikator memiliki beberapa soal, sehingga hasilnya nanti dapat diverifikasi dengan baik.
d. Uji Coba Instrumen
Tuliskan rumus serta hasil perhitungan dalam rangka uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Soal yang rusak diganti.
e. Instrumen Final
Tuliskan instrumen yang sudah valid dan reliabel.

Keseluruhan Bagian ini dilakukan untuk semua variabel, sehingga bila ada 3 variabel, maka akan ada 3 kali penulisan definisi konseptual, operasional, dll.

E. Teknik Analisis Data
1. Teknik Analisis Deskriptif
Tuliskan seluruh rumus yang akan kita gunakan, seperti Mean, Modus, Median, Simpangan Baku dan Tabel Distribusi Frekuensi.
2. Uji Persyaratan Analisis Data
Tuliskan semua rumus yang akan digunakan untuk menguji kualitas data, misalnya rumus Uji Normalitas, Homogenitas (untuk komparasi), Linieritas (korelasi) dan Uji Pelanggaran Asumsi Klasik (multikolinieritas, autokorelasi dan heterokedastisitas)
3. Uji Hipotesis
Tuliskan rumus yang akan kita gunakan untuk uji hipotesis termasuk dengan kriteria penerimaan Ho dan H1.

F. Hipotesis Statistik
Hipotesis dituliskan dengan menggunakan simbol-simbol matematika, misalnya menggunakan lambang rho, dll. (Masih belum paham? silahkan lihat contohnya di perpustakaan UNINDRA).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden
Dijelaskan karakteristik responden, termasuk umur, tempat tinggal, jenis kelamin, pendidikan dan lain sebagainya.
B. Statistik Deskriptif Variabel
Dituliskan hasil perhitungan statistik deskriptif tiap-tiap variabel. Dimulai dari pembuatan tabel distribusi frekuensi, perhitungan modus, median, mean dan simpangan baku serta gambar histogramnya.
C. Uji Persyaratan Analisis Data
Dituliskan hasil perhitungan terhadap uji persyaratan analisis data yang dilakukan. Hasil perhitungan uji normalitas, uji homogenitas, uji linieritas dan uji pelanggaran asumsi klasik.
D. Uji Hipotesis
Dituliskan langkah-langkah pengujian hipotesis.
Jika 2 variabel bertipe interval diuji dengan korelasi dan regresi sederhana
Jika 3 atau lebih variabel bertipe interval diuji dengan korelasi dan regresi ganda
Jika 3 atau lebih variabel bertipe interval (pengembangan regresi) diuji dengan analisis jalur
Jika 2 kelompok sampel atau 2 variabel dengan tipe data berbeda diuji dengan uji beda rata-rata
Jika 3 atau lebih kelompok sampel atau 3 variabel dengan tipe data berbeda dan antar variabel ada interaksi diuji dengan ANOVA/ANAVA
Jika 3 atau lebih kelompok sampel atau 3 variabel dengan tipe data berbeda dan antar variabel tidak ada interaksi diuji dengan ANKOVA.
E. Pembahasan Hasil Penelitian
Jabarkan dengan bahasa sendiri interpretasi kita terhadap hasil perhitungan yang kita lakukan. Termasuk tuliskan juga keterbatasan-keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Tuliskan kesimpulan dari seluruh penelitian yang kita lakukan.
B. Saran

Tuliskan saran-saran sehubungan dengan kesimpulan yang kita buat.

Semangat yach....
Penelitian itu indah...

Wednesday, October 22, 2008

Sumber Gula Baru

Secara umum, kondisi pergulaan nasional, paling tidak, memiliki tiga persoalan utama. Pertama, rendahnya harga beli gula bagi produksi petani karena rendahnya harga gula dipasaran dunia. Kedua, rendahnya produktivitas pabrik gula dan banyak yang tidak efisien. Ketiga, perkembangan industri gula nasional terus merosot. Produksi gula di Indonesia mengalami penurunan pertahunnya sebesar 2,14% atau 44.328,695 ton. Sedangkan perkembangan konsumsi gula di Indonesia meningkat dari tahun 1991/1992 sampai tahun 2000/2001 sebesar 2,03% atau 61.186 ton. Kedua faktor tersebut memicu kenaikkan trend impor gula di Indonesia per tahunnya sebesar 11,94% atau 116.535,839 ton.
Sumber utama gula di Indonesia saat ini adalah tebu (Saccharum officinale) yang sekarang produktivitasnya menurun disebabkan oleh perubahan iklim di Indonesia yang tidak menentu. Jika hanya mengandalkan produksi gula dari tebu, penurunan produksi gula akan terus turun dan impor gula akan terus meningkat. Maka dari itu, diperlukan sumber produksi gula selain tebu yang dapat menjawab tantangan masalah perikliman dan situasi produksi industri yang ada di Indonesia saat ini.
Caryota mitis Lour. (fish-tail palm) memiliki kandungan sukrosa yang sangat tinggi pada air bunganya, yaitu sebesar 83,5 %. Karena hanya memanfaatkan bunganya saja, Caryota mitis dapat dikelola sebagai tanaman perkebunan, seperti halnya kelapa sawit, yang dapat dipanen terus-menerus selama waktu reproduktif pohon tersebut. Hipotesis kami adalah air bunga (nira) pada Caryota mitis Lour. dapat digunakan sebagai sumber gula alternatif pengganti tebu.
Proses untuk mendapatkan sukrosa murni dari air bunga pohon tersebut dapat dilakukan melalui proses ekstraksi air bunga, pengendapan kotoran, pemurnian air gula & pemisahan dari kandungan senyawa lainnya, kristalisasi dan dilakukan penyimpanan untuk selanjutnya diproses menjadi kristal gula murni.
Keberhasilan introduksi sumber gula yang satu ini akan menjadi wacana baru dalam perkembangan bio-industri skala nasional sekaligus menjawab tantangan kebutuhan salah satu komoditas pangan terpenting baik di Indonesia maupun dunia.