Ilmu Pengetahuan Merupakan Jendela Masa Depan. Mari Kembangkan Ilmu Pengetahuan Dengan Memahami Matematika dan Melaksanakan Penelitian.
Maju Pendidikan Indonesia...
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh pelaksanaan kebijakan sekolah gratis terhadap prestasi belajar siswa dengan mengontrol kemampuan awal siswa. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan menggunakan data sejak tahun 1997/1998 hingga tahun 2007/2008. Sampel dipilih dengan teknik random sampling dari 5 wilayah yang ada di wilayah DKI Jakarta. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar isian (teknik dokumentasi) tentang tes masuk siswa, rata-rata ujian nasional dan tahun pelaksanaan kebijakan sekolah gratis. Mengingat tidak adanya interaksi antara pelaksanaan kebijakan sekolah gratis dengan kemampuan awal siswa, maka teknik analisis data yang digunakan adalah dengan Analisis Kovarians (ANKOVA).
Penelitian ini memberikan hasil sebagai berikut: 1) Sebelum pelaksanaan kebijakan sekolah gratis, kemampuan awal memberikan pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Koefisien korelasi sebesar 0,36 dan koefisien determinasi sebesar 12,96%; serta persamaan regresi Y = 8,597 + 1,049X; sehingga dapat disimpulkan bahwa sebelum kebijakan sekolah gratis dijalankan, semakin tinggi kemampuan awal siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya dan sebaliknya semakin rendah kemampuan awal siswa maka semakin rendah pula prestasi belajarnya. 2) Sesudah pelaksanaan kebijakan sekolah gratis, kemampuan awal siswa juga memberikan pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Koefisien korelasi sebesar 0,293 dan koefisien determinasi sebesar 8,58%; serta persamaan regresi Y = 8,368 + 0,965X; sehingga dapat disimpulkan bahwa sesudah kebijakan sekolah gratis dijalankan, semakin tinggi kemampuan awal siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya dan sebaliknya semakin rendah kemampuan awal siswa maka semakin rendah pula prestasi belajarnya. 3) Kebijakan sekolah gratis tidak memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa dengan mengontrol kemampuan awal siswa. Hal ini terlihat dari hasil pengujian hipotesis dengan teknik ANKOVA memberikan nilai Fo = 0,000; Ft(0,05) = 0,254 dan Ft(0,01) = 6,352; yang berarti nilai Fo <>
Penelitian ini memberikan hasil bahwa peningkatan prestasi belajar siswa tidak disebabkan oleh pelaksanaan sekolah gratis, tetapi semata-mata karena peningkatan kemampuan awal siswa, sehingga perlu diadakan peninjauan terhadap kebijakan sekolah gratis ini.
Keyword : sekolah gratis, kemampuan awal, prestasi belajar, analisis kovarians
NB : Ingin makalah lengkapnya..?? Silahkan kirim e-mail ke leonard@unindra.net
Abstrak: Semakin menurunnya kinerja guru sudah seharusnya menjadi perhatian kita semua. Penurunan kinerja guru tentunya akan berdampak pada kualitas proses pembelajaran yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas lulusan. Semakin rendahnya kinerja guru mungkin disebabkan oleh banyak faktor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji kebenaran hipotesis tentang pengaruh motivasi kerja dan suasana lingkungan kerja terhadap kinerja guru, baik secara parsial maupun secara bersama-sama.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey. Sampel yang diambil adalah keseluruhan populasi yang berjumlah 30 orang. Instrumen penelitian menggunakan skala Likert masing-masing berjumlah 25 soal, yang terdiri dari: 1) instrumen motivasi kerja, 2) instrumen suasana lingkungan kerja dan 3) instrumen kinerja. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, analisis regresi linier sederhana dan regresi linier ganda. Analisis data dilakukan setelah dipenuhi persyaratan normal dan uji pelanggaran asumsi klasik.
Hasil pengujian hipotesis diperoleh sebagai berikut: 1) motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, 2) suasana lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru dan 3) secara bersama-sama motivasi dan suasana lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru.
Hasil penelitian dapat digunakan oleh sekolah untuk terus meningkatkan motivasi kerja para guru dengan cara meningkatkan kenyamanan suasana lingkungan kerja, sehingga pada akhirnya kinerja guru juga akan meningkat.
Kata Kunci : Guru, Motivasi, Suasana, Kinerja
Butuh Artikel Lengkap..??? Silahkan download link di bawah ini:
http://www.ziddu.com/download/5611737/SuasanaKerjaTerhadapKinerjaGuru.pdf.html
Atau bila link tidak bekerja dengan baik, silahkan copy link ke browser Anda...
Secara umum penelitian dibagi menjadi dua jenis yaitu penelitian eksperimen dan penelitian non eksperimen. Jika pada penelitian eksperimen terdapat intervensi/perlakuan dari peneliti dengan mengukur dampak, maka sebalikanya pada penelitian non eksperimen/expost facto, peneliti tidak melakukan kendali melainkan mengumpulkan data/fakta yang ada. Penelitian eksperimen adalah mengubah fakta dengan memberikan perlakuan/intervensi dan menghasilkan teori baru. Perlakuan mengakibatkan perubahan variabel yang ada.
Menurut Sukmadinata (2005), penelitian eksperimental merupakan pendekatan penelitian kuantitatif yang paling penuh dalam arti memenuhi semua persyaratan untuk menguji hubungan sebab akibat. Disamping itu penelitian eksperimental juga merupakan pendekatan penelitian yang khas yang ditunjukkan oleh dua hal yaitu pertama, penelitian eksperimen menguji secara langsung pengaruh satu variabel terhadap variabel lain dan yang kedua menguji hipotesis hubungan sebab akibat. Ciri utama penelitian eksperimental adalah pengontrolan variabel dan pemberian perlakuan terhadap kelompok eksperimen.
Krathwol(1985) dalam Hadi dan Mutrofin (2006) menjelaskan bahwa eksperimen-eksperimen yang mencakup pengenalan intervensi terencana (treatment) dalam situasi dengan tujuan untuk mencapai hasil dan perubahan tertentu, merupakan pengertian umum dan istilah desain ekperimental. Mereka mengemukakan beberapa langkah yang menjadi dasar dari logika desain eksperimental sebagai berikut : Langkah pertama dalam desain eksperimental adalah menerjemahkan perkiraan atau harapan dalam suatu hipotesis menjadi rumusan yang lebih operasional.
Setelah operasionalisasi langkah berikutnya adalah penciptaan situasi yang memungkinkan dilakukannya tindakan atau perubahan yang diperlukan. Selanjutnya melalui pemilihan desain yang memadai maka akan diperoleh serangkaian alternatif yang darinya dapat dipilih salah satu atau beberapa diantaranya yang terbaik. Terakhir, seandainya data yang ada sesaui dengan dugaan periset maka masih perlu dilakukan pengujian akhir dalam kerangka desain agar hipotesis yang tengah diuji itu terbebas dari diskonformasi.
Ada tiga prinsip dasar desain eksperimen menurut Montgomery (1997) yaitu : (1) replikasi, (2) randomisasi dan (3) blocking. Replikasi mempunyai dua ciri yaitu : pertama, memungkinkan ekperimenter melakukan suatu estimasi dari kesalahan ekperimental dan kedua, rata-rata sampel digunakan untuk mengestimasi pengaruh dari sebuah faktor didalam eksperimen, replikasi memungkinkan eksperimenter memperoleh estimasi yang lebih akurat terhadap pengaruh tersebut. Perlu ditegaskan bahwa da perbedaan antara replikasi dengan pengukuran berulang. Pengukuran bukan replikasi, mereka adalah sebuah bentuk dari pengukuran berulang.
Randomisasi adalah landasan pertama yang mendasari penggunaan metode-metode statistik didalam desain eksperimental. Melalui teknik randomisasi baik alokasi materi eksperimental dan urutan individu dijalankanatau percobaan dari eksperimen dilaksanakan dan ditentukan secara acak.
Blocking adalah sebuah teknik yang digunakan untuk mengembangkan presisi yang mana perbandingan antara faktor-faktor yang berkepentingan dibuat. Seringkali blocking digunakan untuk mereduksi atau mengeliminasi keanekaragaman dari faktor-faktor pengganggu yaitu faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi respon eksperimental tetapi dalam hal tersebut kita tidak tertarik secara langsung.
Penggunaan desain ekperimen secara khusus pada riset evaluasi dikemukakan oleh Finstrbusch dan Motz (1980) sebagaimana dikutip oleh Hadi dan Mutrofin (2006). Dijelaskan bahwa dalam desain ekperimental dua kelompok dikaji yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh perlakuan program atau proyek dan kelompok kontrol yang dalam berbagai aspek lain identik dengan kelompok eksperimen, tidak dikenakan perlakuan atau treatment dalam bentuk prrogram atau proyek. Kedua kelompok diukur berdasarkan variabel hasil yang diinginkan sebelum dan sesudah program/proyek, selanjutnya perubahan pada kedua kelompok diperbandingkan. Apabila semua faktor lain yang relevan terkontrol sevara memadai maka perbedaan setelah
Komponen-komponen utama dalam penelitian eksperimen adalah program/proyek diantara kedua kelompok tersebut seharusnya merupakan hasil program tersebut. Hubungan tersebut dapat ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut :
SUBJEK
PENGUKURAN
SEBELUM PROGRAM
PENGUKURAN
SESUDAH
PROGRAM
PERUBAHAN
Kelompok Eksperimen
a
b
b – c
Kelompok Kontrol
c
d
d – c
Hasil Program
(b – a) – (d – c)
Komponen-komponen Eksperimen
Terdapat 5 komponen dalam penelitian eksperimen yaitu :
1)Variabel kriteria (variabel tidak bebas "Y")
Adalah variabel yang terpengaruh oleh variabel bebas yang merupakan tolak ukur dari keberhasilan perlakuan eksperimen sehingga variabel kriteria dianggap yang paling utama dari keberhasilan perlakuan. Pada eksperimen,perlakuan didesain secara teori (pengujian. Eksperimen berlaku umum sedangkan action research tidak berlaku umum, tapi merupakan kasus. Eksperimen dilakukan karena tuntutan yang mengilhami treatment adalah veriabel kriteria misalnya, motivasi belajar, keberhasilan, prilaku dll
2)Perlakuan (treatment)
Adalah sesuatu yang sengaja dirancang yang dikenakan pada subjek sehingga variabel kriterion berubah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
-harus dirancang berbasis teori dan boleh berasarkan empiris
-perlakuan harus jelas beda dengan perlakuan yang sudah ada
-perlakuan harus dirancang final; onsep dan pelaksanaanya tidak boleh diubah ditengah jalan
-dikenakan pada unit-unit; orang, butir tes, unit eksperimen, penskoran
3)Desain (rancangan)
Adalah teknik pengaturan supaya dalam pengujian kita dapat memastikan apakah dalam penilaian terjadi perubahan sebagai akibat dari treatment. Desain pengaturan berbagai kondisi yang mengakibatkan treatmentnya berubah. Ada 2 macam desain yaitu desain eksperimen dan desain perlakuan. Dalam desain perlakuan ada rancangan sedangkan dalam desain eksperimen hasil rancangan dideskripsikan.
4)Instrumen
Harus ada alat ukur yang standar dan harus valid karena kita mengukur
5)Monitoering dan kontrol
Digunakan untuk :
-menghindari adanya kontaminasi antara subjek dan perlakuan
-untuk menjamin perlakuan sesuai dengan rancangan desain
-untuk mendeteksi adanya kontaminasi dan penyimpangan lain