Wednesday, September 24, 2008
NAF: Kaulah Hidup dan Matiku
Kaulah darahku,
juga nadiku
Kaulah nafasku,
juga jantungku
Engkaulah hatiku,
dan juga jiwaku
Aku mau hidup denganmu
Aku mau mati pun karenamu
Aku mau di sisa waktuku, bersamamu
Kaulah senyumku,
juga tawaku
Kaulah damaiku,
juga bahagiaku
Engkaulah teduhku,
tempatku bernaung
Aku mau hidup denganmu
Aku mau mati pun karenamu
Aku mau di sisa waktuku, bersamamu
Kau yang s'lalu setia
Menemaniku
Merasakan harumnya cinta di hatiku
Kau yang menyayangiku
Setulusnya
Kalau aja semua orang (pria dan wanita) bisa ngomong kaya gini...
Saya yakin, dunia ini akan penuh dengan kenyamanan dan sukacita...
ANDAI ...
Saturday, July 5, 2008
Dalam Suka Yang Sama
Ada cat yang mewarnawarnikan bumi
Agar tak terlihat pucat
Dalam sukamu tanah yang sama
Adakah madu yang memaniskan empedu
Bahkan melezatkan buah semacam mengkudu?
Dalam sukamu tanah yang sama
Adakah parfum yang membuat melati harum
Dan sedap malam yang membikin semua kagum
Dalam sukamu terbenam kotoran
Sampah berceceram
Mengapa bisa kau hadirkan
Warna, gula, madu dan parfum?
Dari sukamu tercipta insan termulia
Warnai dunia dengan wajah bermadu wangi
Menjadi gula bai semut dunia
Dari sukamu tertimbun kebengisan
Dan keangkuhan insan
Tapi tetap kau limpahkan
Warna, gula, madu dan parfum
Lalu kejujuranmu?
Mana yang hendak kupercayai?
By: Rini Nilasari, 2004
Friday, June 27, 2008
Lagi Romantis...
Saya pernah dekat dengan seorang wanita, teman kuliah sich... Dan dari dia, saya menjadi suka lagu ini. Waktu dia bilang tentang lagu ini, saya sama sekali belum pernah mendengarnya. Akhirnya, saya mati-matian berusaha mencari mp3 dan sekaligus teks lagunya.
Finally, saya bisa menemukan mp3 dan teks lagunya... Tetapi, begitu semua saya temukan, semuanya sudah berakhir.... Dia pergi meninggalkanku...
Ini dia lagunya... Enjoy that...
Waiting For Your Love
How can I explain the sorrow and my pain
I believe that you and i should be together once again
Every night I pray that you'll come back to me
But the tears keep falling down my face when you're not around
Chorus. (2x)
But now you're gone
Gone away
All I do is wait for you each and every day
** Oh I'm waiting for your love I
'm wondering where you are
Are you with another guy
Are you showing him your world
Oh I'm waiting for your love
I want to see your smile
Brighten up my day,
Yes I'm waiting for your love
Yes I'm waiting for your love
***Many sleepless nights
I've waited by the phone
I'm wondering where you are tonight if you're all alone
If I had another chance
I'd never let you go
My heart's been broken in two
And it's all because of you
Repeat Chorus
Now you're gone
All I do is wait for you
Each and every day
Saturday, June 21, 2008
Indonesia Tanah Air Beta
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
Friday, June 20, 2008
Make Your Opinion About Your Lecturer
Silahkan memberi komentar dengan cara menuliskan nama dan atau nomor NPM, kemudian tuliskan opini Anda tentang dosen.
Dalam hal ini ditekankan opini tentang saya.
Hal yang perlu dikomentari: gaya mengajar, disiplin, penguasaan materi, kemampuan memotivasi dan hal-hal lain.
Komentar Anda untuk kemajuan bersama...
Terima kasih dan selamat berkomentar...
Tuesday, June 17, 2008
Aktivitas Akademis dan Non-Akademis Mahasiswa
DAN AKTIVITAS NON-AKADEMIS MAHASISWA *
Oleh : A. Kosasih **
Prolog
Dalam menyampaikan permasalahan ini, sama sekali tidak ada pretensi sedikitpun dari penulis untuk bersikap “menggurui” kepada siapapun yang membacanya, terutama kepada mahasiswa angkatan baru. Pada dasarnya kita bersama-sama sedang berusaha untuk terus mencari rumusan yang tepat guna mendapatkan keseimbangan antara tujuan dan harapan. Apa yang akan disampaikan di sini semata-mata hanyalah sebuah tawaran dan ilustrasi singkat berdasarkan pengetahuan dan beberapa pengalaman selama berada di kampus ini. Dan boleh jadi apa yang disampaikan ini tidak selalu sesuai dengan apa yang dialami oleh teman-teman mahasiswa dewasa ini. Paling tidak kami berharap, tulisan ini dapat menjadi semacam acuan tambahan dalam rangka usaha kita menjadi mahasiswa yang berkualitas, intelektual dan sosial, serta akhirnya dapat menjadi sarjana yang sesuai dengan kualifikasi seorang sarjana yang sujana.
Mahasiswa dan Keseimbangan Aktivitas di Kampus
Secara empirik paling tidak ada beberapa hal yang perlu di renungkan dalam rangka usaha mencapai keseimbangan aktivitas seorang mahasiswa terhadap kegiatan akademis dan kegiatan non-akademisnya, sesuai judul di atas. Pertama, adalah masalah kedisiplinan pembagian waktu. Masalah ini sebenarnya merupakan persoalan sepele dan klise, yang jika diabaikan akan berakibat fatal. Seorang mahasiswa sudah selayaknya mempunyai penjadwalan waktu yang cukup tegas dan konsisten dalam mengatur aktivitasnya sehari-hari. Hal ini perlu diingat karena pola belajar di kampus lebih longgar dan bebas dibandingkan ketika di SMA. Demikian pula dengan sejumlah literature yang harus dibaca, di mana tidak semuanya mudah didapatkan dan dicerna dengan baik dalam waktu singkat. Di sisi lain, aktivitas kemahasiswaan secara non-akademis juga sangat kompleks dan cenderung menyita waktu. Selain energi tenaga, juga diperlukan energi pikiran dan biaya, bahkan mungkin perasaan, mengingat kehidupan kampus adalah miniatur masyarakat dan negara serta bangsanya.
Setelah masalah waktu, hal kedua yang perlu diperhatikan adalah kejelian mahasiswa dalam memilih aktifitas akademik dan non-akademik. Untuk akademik, mahasiswa harus memiliki suatu perencanaan perkuliahan yang cukup matang, mata kuliah apa saja yang sudah, sedang dan akan diambil dalam satu waktu semester, sehingga status kemahasiswaannya di kampus ini menjadi lebih terjamin. Dengan kata lain, mahasiswa juga harus melakukan penyesuaian dengan pola interaksi di kampus, baik dengan dosen maupun dengan rekan-rekan senior maupun rekan seangkatan. Pemilihan mata kuliah ini perlu ditekankan khususnya bagi mereka yang ingin juga berkiprah dalam aktifitas non-akademis.
Untuk aktifitas non-akademik satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa mahasiswa haruslah benar-benar memilih aktifitas organisasi/kegiatan yang menarik minatnya dan yang lebih penting dapat sebagai sarana pengembangan bakat dan minatnya secara lebih dalam. Sehingga diharapkan terjadi suatu peningkatan kualitas dari mahasiswa tersebut sepanjang dia konsisten dan serius dalam menggeluti bidang kegiatannya. Hal ini untuk menghindari dan ini banyak terjadi, seorang mahasiswa mengikuti beraneka ragam kepanitiaan dan kegiatan yang bermacam-macam pula jenjangnya, namun karena tidak melakukan introspeksi diri, maka akhirnya selalu menjadi staf atau seksi tertentu saja. Tidak ada peningkatan pada posisi yang lebih berarti, misalnya menjadi ketua atau jabatan-jabatan strategis lainnya. Kita tidak perlu munafik, keinginan aktualisasi dan eksistensi diri sangat diperlukan oleh mahasiswa dari rekan-rekannya yang lain, walau mungkin cara ini bukan satu-satunya dan bahkan dapat menimbulkan kecenderungan memarginalisasikan pihak lain. Cara peningkatan kualitas model ini bisa diraih dengan melalui usaha dan kemampuan masing-masing individu, sehingga mendapatkan kepercayaan untuk memegang jabatan-jabatan yang lebih tinggi dalam aktifitas kemahasiswaan. Ini bukanlah hal yang remeh, walau memang hanya sedikit kepuasan yang didapatkan di sini, dan jangan sekali-kali mengharapkan keuntungan material dari bentuk aktifitas non-akademis. Namun manfaat secara pribadi, pengalaman, serta wawasan dari kegiatan ini sangatlah penting. Hal ini yang perlu diperhatikan adalah perlunya ketabahan dan keteguhan, baik personal, mental dan emosi. Secara akademik, hal yang perlu diperhatikan karena mahasiswa harus menghadapai pola perkuliahan yang lebih mandiri, bebas, dan individualistis. Dengan kata lain, berhasil atau tidaknya perkuliahan mahasiswa itu hampir secara mutlak ditentukan oleh tindakan akademis mahasiswa yang bersangkutan. Ini akan menjadi masalah jika kemudian mahasiswa itu menghadapi dosen yang “kejam” dan mengalami kelambanan dalam mencerna materi perkuliahan yang disampaikan. Akibatnya mahasiswa harus rajin untuk membaca dan mengolah sendiri materi perkuliahan secara lebih lama dan dalam dibandingkan rekan-rekannya yang lain. Di samping itu mahasiswa harus pula semakin rajin dan ulet menemui staf dosen yang berkompeten dalam rangka mendiskusikan permasalahannya, berikut segala macam kesenangan dan kerewelan dosen yang bersangkutan.
Sementara dalam aktifitas non-akademik, umumnya mahasiswa harus tahan dan gigih menghadapi intrik-intrik dan konflik-konflik dengan individu lain atau kepentingan-kepentingan kelompok/mahasiswa lainnya. Banyak mahasiswa menjadi frustasi dan menghasilkan tindakan kompensasi yang tidak proporsional. Secara ekstrim ada yang bersikap apatis dan selalu minus dalam memandang setiap kegiatan intra kampus, sementara di sisi ekstrim lainnya, mahasiswa menjadi hiperaktif dan agresif sekali. Seolah-olah kampus ini sesuatu yang mutlak miliknya dan dapat diperlakukan seenak dirinya sendiri. Adakalanya pula, seorang mahasiswa sudah “enjoy” dengan aktivitas kesehariannya, tiba-tiba karena sengaja atau tidak, terbentur dengan intrik atau tekanan pihak lain, menjadi patah arang dan mundur dari aktivitas itu. Padahal dengan sedikit perjuangan, dirinya akan menjadi orang yang cukup berarti di kegiatan tersebut. Umumnya mahasiswa seperti ini akan mencari kegiatan lain sekedar pelarian. Padahal kurang arif jika seorang mahasiswa tidak mau dihimpit oleh krisis dan tekanan seperti itu, sebab apa yang orang sering bilang dengan kematangan diri, akan muncul kepribadian dan sikap untuk bersedia memahami sesuatu dengan proporsional.
Di sisi lain, perlu diperhatikan pula pola pergaulan sosial di kampus tersebut. Para mahasiswa sebaiknya memang segera mengetahui pola pergaulan di kampusnya masing-masing, dari unit terkecil hingga terbesar. Dan ini hanya bisa terpecahkan, jika mahasiswa berusaha membuka diri satu sama lain dalam wacana dialog yang dinamis. Hubungan struktural atau hirarki organisasi dari masing-masing lembaga kemahasiswaan yang ada, akan tumbuh harmonis bilamana tercipta suasana kompetitif yang sehat.
Mahasiswa dan Pengetahuan Organisasinya
Pengetahuan berorganisasi sebagai proses belajar memberikan arah agar setiap orang (pelaku organisasi) mengembangkan kemampuannya secara terus menerus untuk mencapai prestasi yang diinginkan, dengan cara selalu memelihara pemikiran yang baru, dan mengembangkan aspirasi kelembagaannya secara bebas, serta meningkatkan pengetahuannya secara bersama.
Secara kontekstual berorganisasi selalu dikaitkan dengan aktivitas di luar kegiatan sehari-hari. Karena itu pengalaman berorganisasi dapat mendorong kita untuk menghayati “arti/makna” hubungan manusia dengan hal-hal di luar dirinya selaku pribadi. Mengingat organisasi adalah suatu kerja bersama dengan tujuan yang sama.
Organisatoris yang baik adalah jika setiap pelakunya dapat menemukan jatidirinya dalam ikatan/komitmen bersama serta mampu mempelajari ruang lingkup tugasnya. Setiap pelaku organisasi dapat menjadi siswa yang baik untuk kemudian mempelejari dan mengetahui kehidupan organisasinya. Hal itu dimaksudkan agar para pelaku mengerti, bahwa setiap orang yang melebur diri bersama dalam organisasi itu saling percaya satu sama lain.
Di samping itu, masing-masing pelaku berupaya saling melengkapi kemampuan satu sama lain, agar setiap kemampuan itu dapat menghasilkan prestasi yang lebih baik. Jangan kita menunggu perintah dari orang/atasan untuk memperbaiki pola kerja yang sudah ada garis pedomannya. Sebaiknya setiap pelaku harus dapat bekerja berdasarkan strategi besar yang telah ditetapkan sesuai kemampuan dan kecerdasannya (the right man in the right place).
Epilog
Berdasarkan kerangka pemahaman organisasi di atas, seorang aktivis kampus hendaknya mampu mempedomi, bahkan mengatur setiap aktivitasnya secara terbuka dan mengandung dasar rasionalitas yang tinggi. Sejauh ia mampu memberikan solusi-solusi yang tepat dalam memilih bentuk aktivitasnya di kampus. Misalnya, seseorang yang memegang ketua atau koordinator suatu bidang tertentu, hendaknya ia bisa memaknai hak dan tanggungjawabnya serta konsekwensi yang mungkin timbul sebagai akibat kekuarangan dari realisasi pelaksanaan yang telah diprogram atau disusun secara organis. Banyak dijumpai seseorang yang memiliki kewenangan tertentu, tapi tidak banyak atau mampu memberikan kontribusi yang sesuai dengan kewenangan yang dipegangnya. Sudah-sudah hanya menjadi pelaksana atau operator yang mengikuti garis perintah, tanpa pernah bisa menjalankan prinsip-prinsipnya di dalam berorganisasi.
Salam Mahasiswa !
* Makalah disampaikan dalam diskusi terbatas BEM UNINDRA bekerjasama dengan UKM Media Kampus. Sabtu, 09 Oktober 2004
ADAT BUDAYA BATAK DALIHAN NA TOLU: ANALISIS DARI SUDUT PRINSIP SERTA URGENSINYA DALAM MERAJUT INTEGRASI DAN IDENTITAS BANGSA
Oleh :Anwar saleh daulay *)
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Medan
1. Pendahuluan
Indonesia selain memiliki wilayah yang luas, juga mempunyai puluhan bahkan ratusan adat budaya. Salah satu diantaranya adalah adat budaya Batak Sumatera Utara, sesungguhnya setiap adat budaya merupakan potensi yang bernilai guna bilamana dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Rahmani Astuti (1992:145) mengatakan bahwa nilai adat budaya sangat berguna untuk mengaktualkan nilai-nilai estetika dalam kehidupan kita, dan sekaligus ia dapat dijadikan sebagai intrumen penjaga identitas dan perekat kesatuan bangsa.
Dewasa ini bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, diantaranya adalah terusiknya aspek integritas dan identitas bangsa yang sangat majemuk. Indikasi terhadap terjadinya disintegrasi telah muncul di beberapa tempat seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, dll. Mereka menuntut keseimbangan keuangan pusat dan daerah bahkan menuntut kemerdekaan. Berkenaan dengan masalah bangsa tersebut, pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah cara memelihara integritas dan identitas masyarakat kita yang terancam luntur itu?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui problema yang melatarbelakanginya. Di antara problema yang ada mengungkapkan bahwa latar belakang timbulnya diintegrasi dan erosi identitas adalah berkaitan dengan gaya (style) kebijakan pembangunan masa lalu (baca: masa orde baru) yang antara lain (1) penerapan sentralisme dalam segala hal, (2) uniformisme terhadap banyak pranata sosial budaya, (3) derasnya intervensi budaya asing. Akibat dari kebijakan itu adalah terganggunya potensi budaya lokal sebagai alat pembina jiwa integritas dan identitas bangsa yang terkenal dengan semboyan bhineka tunggal ika.
M. D. Harahap (1986:24) mengatakan bahwa beberapa daerah ternyata memiliki sejumlah mekanisme kepemimpinan dan kearifan sebagai bagian dari nilai adat budaya. Dalam konsep adat budaya daerah terdapat beberapa kearifan lokal dan sejumlah kepemimpinan lokal yang kesemuanya potensial dalam menata masyarakat damai dengan identitas dan integritas bangsa yang kuat.
Akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung melemahkan potensi daerah, dan dikaitkan dengan realitas terganggunya kerukunan khidupan bangsa, maka sudah selayaknya nilai-nilai adat budaya dihidupkan kembali untuk memperkuat jiwa integritas dan identitas bangsa. Dengan cara mengenalkan dan mensosialisasikannya kembali adat budaya di tengah-tengah masyarakat diharapkan masyarakat Indonesia memiliki landasan adat budaya sehingga mampu menangkal pengaruh-pengaruh yang merusak sistim nilai-nilai sosial budaya. Dalam usaha mengenalkan adat budaya daerah itulah maka adat budaya Batak Dalihan Na Tolu disajikan. Untuk melakukan pengkajian, penilaian, dan pengenalan kembali adat budaya batak dewasa ini dicoba disoroti dengan cara menjawab pertanyaan: dimana, apa, mengapa, dan bagaimana adat budaya Batak itu.
1.1. Dimana Wilayah Adat Budaya Batak
Suku batak mempunyai lima sub suku dan masing-masing mampunyai wilayah utama, sekalipun sebenarnya wilayah itu tidak sedominan batas-batas pada zaman yang lalu. Sub suku dimaksud yaitu: (1) Batak Karo yang mendiami wilayah dataran tinggi Karo, Deli Hulu, Langkat Hulu, dan sebagian tanah Dairi; (2) Batak Simalungun yang mendiami wilayah induk Simalungun; (3) Batak Pak Pak yang mendiami wilayah induk Dairi, sebagian Tanah Alas, dan Gayo; (4) Batak Toba yang mendiami wilayah meliputi daerah tepi danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, dan Silindung, daerah pegunungan Pahae, Sibolga, dan Habincaran; dan (5) Batak Angkola Mandailing yang mendiami wilayah induk Angkola dan Sipirok, Batang Toru, Sibolga, Padang Lawas, Barumun, Mandailing, Pakantan, dan Batang Natal. (Nalom Siahaan: 1982:X).
Menurut tarombo (silsilah) orang Batak, semua sub-sub batak itu mempunyai nenek moyang yang satu yaitu si Raja Batak (W. W. Hutagalung, 1990:7). Dari si Raja Batak inilah bekembang sub-sub suku Batak yang mengembara ke wilayah-wilayah teritorial di atas sejalan dengan perkembangan pemukiman baru atau perkotaan yang semakin meluas. Setiap pembukaan kampung baru biasanya diringi dengan penabalan marga baru terhadap orang yang membuka perkampungan tersebut. Cara ini terutama dilaksanakan dilingkungan sub-sub suku Batak Toba, sehingga dengan demikian jumlah marga dilingkungan suku Batak Toba adalah relatif lebih banyak jumlahnya, berbeda dengan jumlah marga pada sub suku Batak Mandailing Angkola yang relatif lebih sedikit jumlahnya karena tidak menerapkan cara penebalan marga baru. Marga dilingkungan suku Mandailing Angkola adalah hanya belasan jumlahnya, yaitu Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batu Bara, Dasopang, Daulay, Dalimunthe, Dongoran, Hutasuhut, Pane, Parinduri, Pohan, Pulungan, Siagian, Rambe, Rangkuti, Ritongga, dan Tanjung (St. Tinggibarani, 1977 : iii). Sedang marga pada subsuku Batak Toba adalah puluhan jumlahnya. Semua sub suku Batak yang disebut di atas telah meluas dan tersebar di Sumatera Utara, berintegrasi dengan suku-suku bangsa lainnya.
Di berbagai tempat di luar Sumatera Utara suku Batak banyak dijumpai sebagai perantau dan di daerah rantau suku batak biasanya tetap terikat dengan adat budaya sukunya. Misalnya di Sumatera Barat antara lain banyak terdapat di Rao, Lembah Malintang, dan Lubuk Sikaping (Kabupaten Pasaman); Lima Kaum (Kabupaten Tanah Datar); dan Lubuk Bagalung (Kabupaten Padang Pariaman). Di Propinsi Riau banyak terdapat di Tambusai, Rambah, Rokan, Tandun, dan Kota Darusalam Kabupaten Kampar. Kebanyakan perantau suku Batak di kedua propinsi ini adalah suku Batak Angkola Mandailing.
Nalom Siahaan (1982:48) mengatakan bahwa sekalipun di rantau suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, seperti berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Mereka mengadakan pertemuan secara berkala dalam bentuk adat ataupun silaturahmi.
Mobilitas orang Batak yang cukup tinggi mengantarkan mereka ke berbagai penjuru tanah air di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia. Di negeri jiran ini, yakni negara bagian Perak, terdapat nama kampung yang sama dengan kampung asal para migran Mandailing Angkola seperti kampung "Sihepeng". Di negeri jiran itu juga mereka mendirikan paguyuban kedaerahan yang bernama "Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia" (Harahap. E.St, 1960:27). Adat budaya Batak sebenarnya sudah dikenal sebagai bagian budaya Nusantara sejak zaman Majapahit. Hal ini dengan jelas diungkapkan oleh sejarawan Majapahit Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya Negarakertagama yang bertarikh 1365 M, yang menyebutkan ada tiga daerah budaya Batak Mandailing, yaitu Angkola, Mandailing, dan Padanglawas. (Harahap B. Hamidi, 1979:8)
Dari catatan sejarah diketahui bahwa berbagai pengaruh luar sudah lama memasuki wilayah daerah Batak. Pada Batak Angkola Mandailing pengaruh yang kuat adalah dari dunia Islam. Sedang di daerah Batak Toba pengaruh yang kuat adalah dari misi Kristen pada permulaan abad 19.
Tidak dapat disangkal bahwa berbagai pengaruh yang berlangsung berabad-abad telah menjadikan akulturasi dalam suku Batak dengan berbagai variasi dalam adat budaya Batak seperti langgam bahasa, dialek, pakaian adat, dan lain-lain. Namun demikian ada nilai inti (core values) yang tetap baku dan berlaku bagi seluruh sub suku Batak di wilayah dimanapun ia berada, yaitu adat Dalihan Na Tolu, dimana adat ini dapat menembus sekat-sekat agama/kepecayan kedalam suatu kesatuan sosial.
1.2. Apa Nilai Inti Budaya Batak Itu?
Nilai inti budaya (core values of culture) suatu bangsa atau suku bangsa biasanya mencerminkan jati diri suku atau bangsa yang bersangkutan. Sedangkan jati diri itu maksudnya merupakan gambaran atau keadaan khusus seseorang yang meliputi jiwa atau semangat daya gerak spiritual dari dalam. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa nilai inti budaya Batak cukup luas. Dari berbagai kajian terhadap sejumlah ungkapan kata-kata, aksara orang Batak yang diikuti dengan pengalaman adat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dilihat adanya tujuh macam nilai inti budaya suku Batak. Ketujuh nilai inti budaya Batak dimaksud ialah kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Secara ringkas nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1) Kekerabatan
Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Hal ini terlihat baik pada Toba maupun Batak Angkola Mandailing dan sub suku Batak lainnya. Semuanya sama-sama menempatkan nilai kekerabatan pada urutan yang paling pokok. Nilai inti kekerabatan masyarakat batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu. Hubungan kekerabatan dalam hal ini terlihat pada tutur sapa baik karena pertautan darah ataupun pertalian perkawinan.
(2) Agama
Nilai agama/kepercayaan pada orang Batak tergolong sangat kuat. Sedang agama yang dianut oleh suku batak amat bervariasi. Menurut data (Departemen Agama Sumatera Utara, 1999) ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam seperti Angkola Mandiling, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah Batak yang prosentase penganut agamanya berimbang seperti wilayah Batak Simalungun.
Secara intensif ajaran agama telah disosialisasikan kepada anak-anak orang Batak sejak masa kecilnya dengan penuh pengawasan. Diantara pengajaran agama (khususnya Islam) yang diberikan ialah belajar membaca/mengaji al-Qur'an sejak kecil. Belajar ibadah dilaksanakan di rumah ibadah. Dalam pengaturan upacara perkawinan nuansa keagamaan cukup menonjol, demikian juga dalam suasana kematian.
Fenomena keagamaan kadang-kadanng menjadi lebih kuat dari fenomena adat, khususnya di lingkungan suku masyarakat Mandailing Angkola. Tampilnya nuansa agama lebih dominan di lingkungan masyarakat Mandailing Angkola karena didukung oleh sarana pendidikan agama yakni pondok pesantren yang banyak jumlahnya didaerah itu. Diketahui bahwa 32 dari 70 pondok pesantren di Sumatera Utara terdapat di wilayah Mandailing Angkola, Padanglawas, dan Sipirok.
Bukti pengaruh agama Islam yang dominan dalam kehidupan masyarakat Batak Mandailing Angkola terlihat dalam perjodohan/perkawianan semarga dapat diterima di sana (meskipun jarang terjadi). Padahal perkawinan semarga secara jelas dilarang dalam adat Batak, karena dinilai sumbang atau inces. Diterima kawin semarga oleh mereka jelas merupakan kuatnya keyakinan agama yang membolehkan itu. Siapa yang dapat dijodohkan dan siapa yang tidak dapat dijodohkan jelas disebutkan dalam Islam, misalnya dalam al-Qur'an surat an-Nisa 23-24 dengan jelas disebut siapa yang boleh dinikahi, tidak ada dalam ayat itu larangan kawin semarga, kecuali muhrimnya.
(3) Hagabeon
Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Dengan lanjut usia diharapkan ia dapat mengawinkan anak-anaknya serta memeperoleh cucu. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap, jika belum mempunyai anak. Terlebih lebih anak laki-laki yang berfungsi untuk melanjutkan cita-cita orang tua dan marganya. Hagabeon bagi orang Batak Islam termasuk keinginannya untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.
Namun mengenai jumlah anak yang banyak (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) yang telah berakar lama, telah mengalami pergeseran dari bersifat kuantitas pada anak yang berkualitas, mempunyai ilmu dan keterampilan hidup sekalipun jumlahnya tidak banyak. Peranan program KB (Keluarga Berencana) yang dilancarkan pemerintah cukup dominan dalam merubah pandangan tersebut.
Seseorang makin bertambah kebahagiaannya bila ia mampu menempatkan diri pada posisi adat di dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya perjuangan yang berdiri sendiri tetapi ditopang oleh keteladanan dan pandangan yang maju.
(4) Hamoraan
Adapun nilai (kehormatan) menurut adat Batak adalah terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan/jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya bila tidak didukung oleh keutamaanspiritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong/memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang mora (terhormat).
(5) Uhum dan Ugari
Nilai uhum
(law) bagi orang Batak mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari keta'atan pada ugari
(habit) serta setia dengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, dan janjinya dipandang sebagai orang batak yang sempurna.
Keteguhan pendirian pada orang Batak sarat bermuatan nilai-nilai uhum. Perbuatan khianat terhadap kesepakatan adat amat tercela dan mendapat sangsi hukum secara adat. Oleh karena itu, orang Batak selalu berterus terang dan apa adanya tidak banyak basa-basi.
(6) Pengayoman
Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu. Tugas pengayom ini utamanya berada di pihak mora dan yang diayomi pihak anak boru. Sesungguhnya sesama unsur Dalihan Na Tolu dipandang memiliki daya magis untuk saling melindungi. Hubungan saling melindungi itu adalah laksana siklus jaring laba-laba yang mengikat semua pihak yang terkait dengan adat Batak. Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman dari sesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak.
Karena merasa memiliki pengayom secara adat maka orang Batak tidak terbiasa mencari pengayom baru. Sejalan dengan itu, biasanya orang Batak tidak mengenal kebiasaan meminta-minta pengayom/belas kasihan atau cari muka untuk diayomi. Karena sesungguhnya orang yang diayomi adalah juga pengayom bagi pihak lainnya.
(7) Marsisarian
Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Secara bersama-sama masing-masing unsur harus marsisarian atau saling menghargai. Di dalam kehidupan ini harus diakui masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga saling membutuhkan pengertian, bukan saling menyalahkan.
Bila terjadi konflik diantara kehidupan sesama masyarakat maka yang perlu dikedepankan adalah prinsip marsisarian. Prinsip marsisarian merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik/pertikaian.
4. Mengapa Adat Budaya Dalihan Na Tolu Dilestarikan
Suatu suku bangsa akan lenyap bilamana mereka tidak memiliki pegangan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pegangan dimaksud adalah adat budaya yang terdapat pada suatu masyarakat . Oleh karena itu, nilai adat budaya perlu dikenalkan agar masyarakat sekarang dan yang akan datang mampu berprilaku sesuai tuntutan adat budaya yang dijunjung.
Kita mengajarkan adat budaya kepada generasi muda selain sebagai sumbangan nyata, juga sebagai upaya membantu tegaknya tertib sosial kepada angkatan muda. Pengalaman pahit atau manis yang dialami oleh satu suku bangsa/etnis memang dapat mengembangkan nilai adat yang dilakukannya dan sejauhmana dia konsisten dengan nilai adatnya.
Dalam kaitan itulah mengapa adat Dalihan Na Tolu (DNT) diajarkan dilingkungan suku Batak. Ia merupakan adat istiadat yang bertalian erat dengan sistem kekerabatan suku batak. Adat DNT secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20).
Dengan perkawianan terjadilah ikatan dan integrasi diantara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar gunanya dalam menjawab persoalan hidup sehari-hari. Cukup banyak fungsi adat ini bagi masyarakat pendukungnya, diantaranya pati dohan holong yang artinya menunjukan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun/etik. Dari fungsinya yang penuh kehidmatan maka adat DNT dapat diterima oleh setiap etnis Batak sekalipun mereka berbeda-beda agama. Mereka yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha kadang-kadang begitu erat ikatannya karena konsep adat telah terbentuk sejak mulai lahirnya kelompok masyarakat yang identitas utamanya adalah adanya marga. Dengan marga itu orang Batak akan setia tehadap ketentuan adatnya di manapun mereka berada (Nalom Siahaan 1982:5).
Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Sebagaimana diketahui marga bagi orang Batak diturunkan secara patrinial artinya menurut garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam marga yang sama markahanggi (semarga). Orang batak yang semarga merasa bersaudara kandung sekalipun mereka tidak seibu-sebapak. Mereka saling menjaga, saling melindungi, dan saling tolong-menolong (St. Tinggi Barani P. Alam 1977:5).
Fungsi lainnya dari adat DNT adalah pengenalan garis keturunan hingga jauh ke atas yang disebut tarombo (silsilah). Kekuatan kekerabatan terwujud dalam pemakaian tutur atau sapa. Tutur itu berisi aturan hubungan antar perorangan atau antar unsur dalam DNT. Tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Tidak kurang dari limapuluh macam tutur dalam kekerabatan Batak. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakannya. Tutur kekerabatan itu sekaligus menentukan prilaku apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul.
Jika seseorang memanggil tutur tulang yaitu mertua atau saudara laki-laki dari ibu kepada seseorang, maka sipemanggil adalah bere (anak) dari tulang tersebut. Konsekwensinya akan ada hak dan kewajiban diantara mereka secara timbal balik.
Tegaknya hak kewajiban diantara mereka sekaligus menentukan etika yang harus mereka jaga. Mereka harus menjaga etika dalam bersenda gurau. Demikian juga, tutur antara parumaen (istri anak atau menantu) terhadap amang boru (mertua laki-laki) ada etika adatnya yang masing-masing harus menjaganya,
S. De Jong (1970:7) mengatakan bahwa di bawah payung yang sama yaitu adat, manusia menjaga hak dan kewajiban tutur. Pada orang yang berbeda agama kadang terdapat sikap hidup yang sama. Alasannya cukup sederhana, yakni karena mereka semua pertama-tama merupakan orang Jawa atau Batak yang berpegang pada adat.
Dari gambaran adat DNT di atas, dapat dimengerti bahwa adat DNT dapat dibentuk dalam mengatur mekanisme integritas dan identitas antar marga (clan) di suatu kampung. Akan tetapi meskipun telah berkembang melintas batas daerah Batak namun konsep dasar adat DNT berlaku sama di setiap wilayah dan tempat. Hal ini bisa terwujud karena tutur dalam DNT amat menjaga adanya etika. Dari luasnya hubungan kekerabatan dalam adat Batak maka dapat dilihat tumbuhnya harosuan (keakraban) dan nilai ini sangat mendasar dalam segala pergaulan. Nilai keakraban itu tidak sekedar teori, tapi diaplikasikan dalam bentuk mekanisme sosial adat DNT sampai sekarang.
Selain itu, yang senantiasa efektif penggunaanya dalam adat Batak adalah mengenai urusan siriaon dan sikukuton. Siriaon adalah kegiatan yang berkenaan dengan upacara adat bercorak kegembiraan seperti pesta perkawinan, mendirikan dan memasuki rumah baru, sedangkan siluluton adalah kegiatan adat yang bersifat duka cita seperti kematian. Dua macam peristiwa tersebut dipandang tidak dapat terlaksanan dengan baik tanpa partisipasi seluruh komponen adat DNT. (M.D. Harahap 1986:93).
Setiap warga Batak yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat DNT. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan siriaon dan siluluton di tengah-tengah masyarakat secara adat DNT. Karena bila salah satu unsur dari adat DNT tidak hadir maka suatu pekerjaan adat di pandang tidak sah dan tidak kuat.
5. Bagaimana cara Melestarikan Adat DNT
Melestarikan suatu adat budaya dapat mempergunakan berbagai langkah seperti pemberian contoh/keteladanan, demontrasi, pemberian tugas, umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat dipergunakan dalam melestarikan adat DNT. Caranya tidak harus berurutan tetapi dapat digunakan cara yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah seperti memberi contoh maka adat yang semula hanya sebagai pengetahuan, dapat digiring menjadi sikap dan kemudian berubah wujud menjadi diamalkan dan dipraktikkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. Tayar Yusuf (1997:49) mengatakan dengan metode demonstrasi, yakni memperlihatkan bagaimana untuk melakukan jalannya suatu proses akan semakin lancarlah jalannya suatu adat. Disebut juga to show artinya mempertunjukkan suatu hal. Dengan latihan pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai (Tayar Yusuf, 1997:64). Metode latihan/pembiasaan juga banyak membantu pemahaman adat yang dilatih tentunya adalah hal-hal yang bersifat praktis, operasional seumpama melatih Markobar (berbicara adat) di tengah-tengah suatu acara baik adat siriaon ataupun siluluton.
Yang dimaksud dengan umpan balik ialah dengan mengadakan suatu acara adat terhadap seseorang yang kurang begitu menjiwai adat, dengan harapan setelah ia mengikutinya maka dengan sendirinya ia menjadi pelaksana dan pendukung yang aktif. Secara gradual pengenalan adat akan dapat berjalan terus-menerus. Sedangkan sebagai tindak lanjut ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk acara adat.
Penilaiannya adalah apakah suku-suku pemangku adat Batak sudah mewariskan adat budaya daerah disertai dengan contoh teladan terhadap masyarakat pendukungnya. Kelemahannya selama ini adalah kurangnya keteladanan dan latihan, umpan balik dalam adat batak. Apakah karena derasnya pengaruh arus budaya luar yang cenderung materialistis dan kurang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan turut mempengaruhi tidak berjalannya penanaman nilai-nilai adat budaya daerah, termasuk adat budaya batak? Jawabannya diserahkan pada pembaca.
Sumber : Depdiknas
Thursday, June 5, 2008
It is a True Love...??
Benarkah cintanya kepadaku adalah cinta sejati?
Adakah cinta sejati?
Seorang pemuda bernama Rendy sedang menikmati masa-masa mudanya. Dia memiliki apapun yang diinginkan oleh semua pemuda. Dia memiliki wajah yang tampan, kepandaian, semangat dan karakter yang baik. Tetapi, tiba-tiba dia mengalami sebuah kecelakaan fatal yang mengakibatkan dia harus kehilangan penglihatannya (buta permanen).
Selanjutnya, Rendy pun menjadi seorang yang kehilangan arah, merasa frustasi dan seakan tidak memiliki harapan serta masa depan. Dia merasa tidak akan ada seorangpun yang peduli dan mengasihi dia.
Pada saat itulah, ada seorang wanita yang bernama Sheila yang berusaha datang, mendekati Rendy. Sheila pun memberikan cinta dan perhatian yang sangat dibutuhkan oleh Rendy. Dia berusaha membangkitkan semangat dan kepercayaan diri Rendy.
Rendy sangat heran, sekaligus kagum akan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Sheila, hingga ia pun berkata, "Sheila, mengapa engkau begitu memperhatikan aku?". Sheila pun menjawab, "Aku mengasihimu apa adanya, pada saat kelemahanmu-lah terletak kekuatanmu yang sebenarnya."
Rendy pun kemudian berjanji, "Sheila, jika aku bisa melihat lagi, aku berjanji akan menikahi kamu."
Sebulan kemudian, Rendy pun menjalani operasi mata dan kemudian dia pun dapat melihat kembali. Dia sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan Sheila, kekasih dan pujaan hatinya, sehingga ia pun dengan tergesa-gesa berangkat menemui Sheila.
Akan tetapi...???
Dia sungguh kaget, karena ternyata Sheila buta.
Akhirnya Rendy pun berkata, "Sheila, aku tidak mungkin menikah dengan kamu, karena kamu buta." "Hah... dimana janjimu? Kau bilang, begitu engkau bisa melihat, engkau akan segera menikahi aku?" jawab Sheila.
"Ya, itu kalau kamu tidak buta. Selamat tinggal." sahut Rendy.
Sheila yang kecewa kemudian memilih untuk bunuh diri. Rendy yang datang ke pemakaman Sheila menemukan secarik surat yang ditulis oleh Sheila,
Aku bangga begitu tahu engkau sangat bersemangat menjalani kehidupanmu.
Aku bahagia begitu tahu bahwa engkau akan segera menikahi aku saat engkau dapat melihat kembali.
Aku bahagia dan aku sangat bahagia.
Mudah-mudahan, kedua mataku itu dapat berguna bagi masa depanmu.
Sheila
----------
Dia, yang sangat mengasihi kita, bahkan rela memberikan nyawaNya bagi kita.
Adalah CINTA SEJATI.
Admin
Wednesday, June 4, 2008
Salam Perkenalan
Ini adalah blog yang difokuskan untuk mempublikasikan pemikiran-pemikiran, wacana dan hasil-hasil penelitian yang saya lakukan.
Nikmati dan beri komentar untuk perbaikan lebih lanjut..
Maju Pendidikan Indonesia

