Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, January 12, 2010

Pendidikan...???

Teringat sebuah tulisan dari Imam Ghazali, yang saya baca dari www.pustakanilna.com (mudah-mudahan tidak salah tulis), beliau mengatakan, Pendidikan itu bagaikan seorang petani yang tengah mencabut duri dan membuang tanaman asing yang mengganggu di antara tumbuhan yang ia tanam, agar tanaman tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik.

Atau, bila ditelaah dan dianalogikan, maka tumbuhan yang ditanam oleh si petani tersebut adalah siswa dan duri serta tanaman asing adalah segala macam sikap, tindakan dan karakter yang tidak baik di dalam diri siswa. Analogi ini adalah sebuah kepastian untuk tumbuhan yang ditanam dan duri serta tanaman asing, akan tetapi apakah ada analogi yang tepat untuk sosok petani dalam tulisan Iman Ghazali..??

Apakah petani itu dianalogikan sebagai guru? atau sebagai orang tua? atau sebagai lingkungan? atau ada unsur lain? atau saya mencoba menawarkan, bahwa petani yang dimaksud adalah kesatuan dari orang tua, guru, lingkungan dan faktor-faktor lain yang memiliki tujuan sama, yaitu mengikis unsur-unsur negatif dari dalam diri siswa dan memunculkan emas yang ada di dalam diri siswa?

Hmm... sekarang muncul pertanyaan baru, mengikis unsur negatif dan memunculkan emas? apa itu unsur negatif dan apa itu emas dalam diri siswa? Pertanyaan berikutnya, sudahkah si"petani" mengetahui mana pengganggu dan mana buahnya? Atau lebih kongkret apakah orang tua dan guru mengetahui unsur negatif dalam diri masing-masing siswa dapat mengikisnya? atau dapatkah guru melihat emas dalam diri siswa dan memurnikannya?

Pendidikan dewasa ini masih merupakan sebuah pekerjaan yang dilakukan seadanya, seenaknya dan terlalu berorientasi pada kepentingan pribadi. Artinya, pendidikan tidak akan berjalan dengan baik, apabila si petani tidak mendapatkan upah "langsung" dari semua tindakan yang dilakukannya. Hmm... upah di sini tentu tidak berlaku bagi orang tua, karena orang tua tidak memerlukan upah uang dari hasil kerjanya mendidik anak, akan tetapi upah bagi orang tua adalah pengakuan dari orang lain tentang prestasi anaknya, artinya dia mengharapkan orang lain memuji anaknya yang memiliki prestasi membanggakan, walaupun itu diperoleh dengan terlalu mengeksploitasi kemampuan anaknya.

Pendidikan dewasa ini diwarnai oleh maraknya kaum kapitalis, yang justru malah memunculkan kesenjangan (kita perlu ingat, bahwa penyebab masalah paling utama adalah kesenjangan). Hanya masyarakat kaya yang dapat memiliki kesempatan memperoleh pendidikan di tempat yang baik, mewah dan fasilitasnya lengkap, sedangkan kaum menengah ke bawah tidak dapat memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga kondisinya makin hari bukan makin membaik, tetapi semakin memburuk.

Akan tetapi, kita cukup berbesar hati dengan kebijakan pemerintah dengan sekolah gratis-nya, dimana program ini memperluas kesempatan untuk memperoleh pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini tentunya harus dimanfaatkan oleh rakyat kecil, mereka harus berupaya belajar dengan baik, giat dan tekun, sehingga mereka dapat bersaing nantinya dengan para kapitalis yang bersekolah di tempat yang lebih baik. Karena, faktanya melalui penelitian yang pernah saya lakukan, tidak ada peningkatan prestasi belajar semenjak digulirkannya sekolah gratis, dan ditambah lagi, hasil wawancara dengan beberapa orang tua dan siswa menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki motivasi untuk mendapatkan prestasi terbaik. Bahkan, ada beberapa orang tua dan siswa yang tidak peduli naik atau tidak naik kelas, karena mereka berpikir, bahwa semuanya gratis. Itu SALAH...!!! Pendidikan tidak GRATIS, pendidikan MAHAL...!!!

Tulisan ini sebenarnya ingin memotivasi kita semua untuk tidak berhenti belajar, apapun kesempatan yang bisa kita dapatkan, segera AMBIL. Jangan pernah menunggu...
Saya tidak ingin mengkritik guru, sistem pendidikan, tapi saya ingin mengkritik diri saya dan sebagian besar rakyat Indonesia yang terlena dan cenderung pasrah dengan keadaan. Guru, tidak mau mengembangkan diri, padahal terbuka peluang beasiswa. Siswa, tidak mau belajar, padahal sekolah sudah diupayakan gratis. Dosen, tidak mau menulis, padahal terbuka peluang dana untuk penelitian. Dosen, tidak mau membagi ilmunya, padahal membagi ilmu merupakan bagian dari pengabdian masyarakat.

Sekarang saatnya untuk memandang diri kita BERPOTENSI.

Jika visi Anda tetap, hidup Anda akan berubah.
Namun, bila visi Anda berubah-ubah, maka hidup Anda akan tetap.

Friday, June 27, 2008

PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA


Oleh M. Sobry Sutikno

Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan. - M. Sobry Sutikno -
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. • Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. • Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
*Penulis adalah Direktur Eksekutif YNTP for research and Development Kabupaten Sumbawa Barat – NTB (Tode Dasan, Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh, KSB)
Sumber : Situs FIC

Tuesday, June 24, 2008

QUANTUM LEARNING : Melejitkan Prestasi Belajar

Oleh : Guruvalah


Metode pengajaran di sekolah atau Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) masih banyak yang kurang menekankan pada kegiatan belajar sebagai proses. Metode pengajaran masih sering disajikan dalam bentuk pemberian informasi, kurang didukung dengan penggunaan media dan sumber lainnya.

Kondisi ini yang mendorong Arni Arief Lamaka dan Chaerrun Nisa untuk melakukan penelitian terhadap metode Quantum Learning dalam pengajaran. Kedua siswi SMUN 5 Makassar ini meneliti keefektifan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di LBB Gama College, Makassar. Tidak sia‑sia Arni dan Nisa melakukan penelitian itu. Karya mereka dinyatakan sebagai pemenang pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (Republika, 7/10/2002)

Quantum Learning, dalam pandangan kedua siswi ini, adalah seperangkat metode dan falsafah belajar untuk semua umur. Ini mencakup aspek‑aspek penting dalam program Neuralinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara siswa dan guru. Quantum Learning, dapat pula didefinisikan sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi. Quantum Learning adalah gabungan yang sangat seimbang antara bekerja dan bermain, antara rangsangan internal dan eksternal," urainya.

Penelitian dilakukan terhadap siswa dari berbagai sekolah di Makassar yang belajar di lembaga ini. Pengambilan sampel dilakukan secara acak ( random sampling). Jumlah populasi sebanyak 140 orang, sampel diambil 30 persen atau 30 orang.Teknik analisis yang digunakan adalah perbandingan mean (rata‑rata). Dengan teknik ini, kata kedua siswi itu, memungkinkan penelitian untuk membandingkan mean siswa yang meningkat prestasinya atau menurun prestasinya dengan metode Quantum Learning. Hasil penelitian dibagi dalam dua bagian: kuantitatif dan kualitatif. Hasil kuantitatif adalah gambaran tentang keefektifan penggunaan metode Quantum Learning terhadap peningkatan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar yang dinyatakan dalam angka. Hasil kualitatif adalah rumusan hasil penelitian dalam bentuk pernyataan sebagai penguji hipotesis, yaitu apakah metode Quantum Learning efektif digunakan sebagai metode dalan meningkatkan prestasi siswa di LBB Gama College Makassar.

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang menjadi objek penelitian dapat meraih keberhasilan atau meningkat prestasinya. Itu karena lembaga ini melibatkan banyak unsur dalam proses belajar mengajar seperti penataan ruangan yang nyaman, penyajian musik pada saat proses Belajar mengajar berlangsung. Ada komunikasi yang baik dan penggunaan audio visual. Yang paling utama, menurut kedua siswi ini, ialah belajar dengan durasi waktu yang relatif singkat karena menerapkan metode pengajaran serta penyajian materi yang variatik dan inovatik. "Inilah yang disebut seperangkat metode, yaitu Quantum Learning," jelasnya.

Dari serangkaian penelitian tersebut, Arni dan Nisa menyimpulkan bahwa penerapan metode Quantum Learning efektif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa bila dibandingkan dengan metode ceramah. Kedua siswi ini juga menyimpulkan, sebagian besar siswa di LBB Gama College menanggapi metode Quantum Learning sebagai salah satu bentuk pencapaian kualitas belajar yang potensial, karena mampu menciptakan belajar menjadi nyaman dan menyenangkan

Konsep Quantum Learning
Quantum Learning merupakan metoda pengajaran maupun pelatihan yang menggunakan metodologi berdasarkan teori‑teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro Linguistic Programming atau NLP (Grinder & Bandler), Experential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson & Johnson) dan Elements of Effective Instruction (Hunter) menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan dan kompatibel dengan cara bekerja otak yang mampu meningkatkan kemampuan dan kecepatan belajar. Percepatan belajar (accelerated learning) dikembangkan untuk menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, modalitas belajar serta keterlibatan aktif dari peserta.

Konsep kunci dalarn Quantum Learning dari berbagai teori dan strategi belajar yang digunakan antara lain:
a. Teori otak kanan kiri
b. Teori otak triune (3 in 1)
c. Pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik)
d. Teori kecerdasan ganda
e. Pendidikan holistic (menyeluruh)
f. Belajar berdasarkan pengalaman
g. Belajar dengan simbol (metaphoric learning)
h. Simulasi / permainan
i. Peta Pikiran (mind mapping)

Paradigma Belajar Model Quantum Learning
Dalam belajar model Quantum Learning agar dapat berjalan dengan benar ini paradigma yang harus dianut oleh siswa dan guru adalah sebagai berikut :



  1. Setiap orang adalah guru dan sekaligus murid sehingga bisa saling berfungsi sebagai fasilitator

  2. Bagi kebanyakan orang belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, lingkungan dan suasana yang tidak terlalu formal, penataan duduk setengah melingkar tanpa meja, penataan sinar atau cahaya yang baik sehingga peserta merasa santai dan relak.

  3. Setiap orang mempunyai gaya belajar, bekerja dan berpikir yang unik dan berbeda yang merupakan pembawaan alamiah sehingga kita tidak perlu merubahnya dengan demikian perasaan nyaman dan positif akan terbentuk dalam menerima informasi atau materi yang diberikan oleh fasilitator.

  4. Modul pelajaran tidak harus rumit tapi harus dapat disajikan dalam bentuk sederhana dan lebih banyak kesuatu kasus nyata atau aplikasi langsung.

  5. Dalam menyerap dan mengolah informasi otak menguraikan dalam bentuk simbol atau asosiatip sehingga materi akan lebih mudah dicerna bila lebih banyak disajikan dalarn bentuk gambar, diagram, flow atau simbol.

  6. Kunci menuju kesuksesan model quantum learning adalah latar belakang (background) musik klasik atau instrumental yang telah terbukti memberikan pengaruh positip dalarn proses pembelajaran. Musik klasik dari Mozart, bach, Bethoven, dan Vivaldi dapat meningkatkan kemampuan mengingat, mengurangi stress, meredakan ketegangan, meingkatkan energi dan membesarkan daya ingat. Musik menjadikan orang lebih cerdas (Jeannete Vos)

  7. Penggunaan Warna dalam model quantum learning dapat meningkatkan daya tangkap dan ingat sebanyak 78%

  8. Metoda peran dimana peserta berperan lebih aktif dalam membahas materi sesuai dengan pengalamannya melalui pendekatan terbalik yaitu membuat belajar serupa bekerja (pembelajaran orang dewasa)

  9. Sistim penilaian yang disarankan untuk abad 21 dalam pembelajaran adalah 50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian trainer atau atasan (Jeannette Vos)

  10. Umpan balik yang positif akan mampu memotivasi anak untuk berprestasi namun umpan balik negative akan membuat anak menjadi frustasi. Ini berdasar hasil riset pakar masalah kepercayaan diri, Jack Carfiled pada tahun 1982. 100 anak ditunjuk oleh periset selam sehari. Hasilnya, bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negative dan hanya 75 komentar positif.

Untuk meningkatkan percepatan belajar dan efisiensi waktu dan melejitkan prestasi belajar tidak ada salahnya di lembaga-lembaga pendidikan perlu mengembangkan metode belajar dengan konsep Quantum Learning.

Friday, June 13, 2008

MUTU DAN KUALITAS PENDIDIKAN

Seperti yang sudah kita perhatikan secara seksama terutama dari sudut mutu dan kualitas pendidikan saat ini. Sungguh moralitas bangsa juga sedang diuji keandalannya dalam menghadapi situasi krisis dan dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Berbagai ketimpangan yang terjadi saat ini termasuk korupsi, dan berbagai penyimpangan lainnya dalah bersumber dari moral dan watak para pelakunya. Seluruh elemen bangsa sangat mengharapkan agar kemelut ini dapat teratasi sesuai dengan janji presiden wakil presiden saat kampanye pemilihan umum dan program seratus hari yang kita dengarkan saat kampanye berlangsung yang begitu mengharukan. Tapi semua itu sama sekali sangat tergantung pada kualitas moral kita dari berbagai lapisan. Yang pada gilirannya semua itu akan mempengaruhi pola-pola pendidikan yang lebih sesuai dengan tuntutan kecenderungan tersebut. Karena berbicara mengenai manusia pada hakekatnya adalah berbicara mengenai pendidikan. Dalam hal ini kita dituntut untuk mampu menyiapkan sumber daya manusia dengan moral yang tinggi sehingga mampu menghadapi perkembangan zaman dengan kecanggihan berbagai tekhnologi dan era globalisasi, tapa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa kita.
Pada dasarnya, pendidikan itu diarahkan utnuk mencapai kondisi watak bangsa yang utuh seperti yang telah tertulis pada Undang-Undang No. 20 tahun 2004 tentang Sisdiknas pasal 4 mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut :
“ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Seseorang dikatakan memiliki kualitas watak yang baik apabila menampikan perilaku yang sesuai dengan norma – norma yang berlaku, misalnya : orang yang melakukan perbuatan – perbuatan merusak fasilitas umum dapat dikatakan berwatak tidak baik karena tidak sesuai dengan norma moral yang berlaku. Dengan demikian daopat dikatakan bahwa watak yang utuh merupakan keseluruhan penampilan kepribadian dalam keutuhan perilaku yang sesuai dengan norma moralitas bangsa. Di Indonesia norma moralitas yang menjadi landasan timbangan adalah moral Pancasila.
Masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda kita saat ini. Kualitas generasi muda ditentukan oleh mutu pendidikan sebuah bangsa. Pendapat semacam ini memposisikan guru sebagai alat paling depan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun sesungguhnya banyak factor yang menentukan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Berbagai hasil studi dan laporan penelitian mengkonfirmasi kepada kita tentang rendahnya mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia.
Seberapa besar perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Itu yang menjadi pertanyaan kita selama ini, yang masih belum terjawab sampai sekarang. Untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, pendidik berupaya menyampaikan sejumlah isi dan bahan pembelajaran kepada peserta didik melalui proses atau cara tertentu, serta melaksanakan evaluasi untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran yang keseluruhannya dikemas dalam bentuk kurikulum dapat dikatakan sebagai salah satu komponen utama dalam system pendidikan.
Perubahan kurikulum tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan system politik, sosial budaya, ekonomi dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan demi perubahan yang terjadi di masyarakat. Pada saat itu kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi system pendidikan Kolonial Belanda dan Jepang sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain dimuka bumi ini tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana pelajaran terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu system pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri yang menonjol dari kurikulum 1994, diantarannya sebagai berikut :
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan system catur wulan
2. Pembelajara di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi.)
3. Kurikulum bersifat populis, yaitu yang memberlakukan suatu system kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
4. Pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar baik secara mental, fisik dan social.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep / pokok bahasan dan perkembangan berfikir siswa sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan ketrampilan menyelesaikan soal dan pemecahan soal.
Di Indonesia kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sudah diterapkan. Kurikulum ini dikembangkan berdasarkan empat pilar pendidikan yang berasal dari konsep Unesco. Konsep Unesco yang berbasis kebudayaan ini terdiri dari empat pilar yakni: learning to know, learning to do, learning to be, learning live together. Untuk mempertegas pelaksanaan berbasis kompetensi (KBK) Departemen pendidikan nasional melalui badan standart nasional pendidikan memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Pemberlakuan ini tidak akan melalui uji public maupun uji coba, karena kurikulum ini telah diuji cobakan melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang menjadi pilot project.
Seperti yang telah kita ketahui ada kelemahan-kelemahan dalam memberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan yaitu : karena kurangnya sumber daya manusia yang diharapkan mampu menjabarkan kurikulum. Ini pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendudkung pelaksanaan kurikulum adalah salah satunya. Masih banyak guru belum memahami kurikulum yang berlaku secara konfrehensif baik konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya dilapangan. Hal lain yaitu penerapan kurikulum ini yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan para guru.
Pendidikan berkualitas dapat kita artikan sebagai syarat utama untuk meningkatkan kemakmuran dan daya saing bangsa kita. Rendahnya kualitas pendidikan akan berakibat tertinggalnya bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain yang sudah lebih maju, dan juga rendahnya kualitas pendidikan suatu bangsa akan menyebabkan bangsa tersebut sering kali diremehkan bangsa lain. Sementara untuk memperoleh pendidikan berkualitas tentu butuh biaya yang besar. Sangat sulit mengharapkan adanya pendidikan bermutu tanpa biaya yang relative besar. Dalam hal ini, sesungguhnya bangsa dan Negara sudah menyadari pendidikan bermutu tersebut membutuhkan biaya yang besar. Pendidikan bermoralitas itu adalah kewajiban Negara (pemerintah) untuk memenuhinya. Dan setiap warga Negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Dimana bahwa sesungguhnya pemerintah berkewajiban untuk menyediakan biaya pendidikan bagi rakyatnya terutama rakya yang kurang mampu.
Pemerintah memang sudah melakukan berbagai upaya antara lain : berniat menyelenggarakan wajib belajar sembilan tahun dan mulai mengampayekan pendidikan gratis bagi rakyat. Akan tetapi rencana terimplementasikan dengn baik dan benar. Wajib belajar sembilan tahun belum sepenuhnya di dukung infrastruktur yang memadai, begitu pula pendidikan bebas biaya belum dilakukan dengan benar, malah dianggap salah kaprah. Seolah-olah pendidikan bebas biaya (gratis) dimaknai sebagai pendidikan murah atau tanpa biaya.
Sebagian rakyat kecil memang sudah memperoleh pendidikan bebas biaya tapi masih terbatas pada pendidikan tanpa memperhatikan mutu kurang tercerahkanya orientasi pemerintah terhadap mutu pendidikan yang bebas biaya khususnya kepada rakyat tidak mampu tercermin dalam pengalokasian anggaran pendidikan. Untuk menyikapi hal ini kita berharap agar pemerintah lebih membuka diri memperjelas visi dan memperluas jangkauan mengajak dan mendayagunakan semua potensi lembaga pendidikan di negeri ini. Dan pemerintah perlu memberi pemahaman luas bahwa pendidikan bebas biaya (gratis) bukan berarti pendidikan murah atau tanpa biaya melainkan pendidikan membutuhkan biaya bisar. Namun untuk memberi kesempatan memperoleh pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat , terutama rakyat miskin pemerintah menanggung segala biaya yang dibutuhkan.
Jadi, rakyat miskin harus juga diberi kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas dengan biaya besar yang ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah sebaiknya membiayai untuk bersekolah di sekolah-sekolah bermutu baik sekolah negeri maupun swasta. Dan pemerintah juga harus mendorong dan mendukung pihak swasta yang mengelola pendidikan bermutu yang memakan biaya yang relative besar maka sangat diperlukan anggaran pemerintah yang besar untuk mutu dan kualitas pendidikan bangsa ini.

TANTANGAN DAN HARAPAN PENCERAHAN MUTU PENDIDIKAN TANAH AIR



Sumber : Majalah Gema Widyakarya



Harapan memajukan pendidikan di tanah air ini masih harus dikembangkan dengan tantangan baru dari tahun ke tahun. Selama ini proses program pendidikan berjalan dalam bayang-bayang kebijaksanaan yang terus tersendat karena keterbatasan keuangan negara. Sehingga harapan untuk memajukan mutu pendidikan pun masih menggantung dalam wajib belajar dan proses keadilan terhadap kesempatan belajar bagi anak-anak Indonesa.


Sepanjang tahun 2007 tercatat beberapa persoalan serius mulai dari buta aksara, membengkaknya angka pengangguran dikalangan intelektual hingga upaya meningkatnya mutu pendidikan dasar dan menengah masih saja menjadi persoalan serius memasuki tahun 2008 dengan tuntutan global.


Buta Aksara


Warga usia produktif yang buta aksara di Indonesia masih banyak. Survey dari Badan Pusat Statistik dan Departemen Pendidikan Nasional, warga buta aksara berjumlah 18,1 juta orang, sekitar 4,35 juta orang diantaranya di usia produktif 15-44 tahun.


Adapun warga berusia 45 tahun lebih yang buta aksara mencapai 13,4 juta orang, sedang warga berusia 10-14 tahun berjumlah 336,785 orang, dan total warga buta aksara ini 70 persen lebih diantaranya perempuan.


Menurut Sujarwo Singiwidjojo, Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta. Untuk memberantas buta aksara ini pelaksanaannya dengan pemberdayaan ekonomi, kerena pada umumnya warga buta aksara ini berasal dari ekonomi lemah, masyarakat yang menjadi sasaran program pemberantasan buta aksara sebenarnya mau belajar, tetapi terhalang oleh kewajiban bekerja untuk mendapatkan uang bagi keluarga.


Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara di tahun 2004 yang direncanakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, meningkat dratis dari APBN. Tahun 2004 hanya dialokasikan Rp. 80 miliar, sedang tahun 2007 mencapai Rp. 567 miliar. Tahun 2009 ditargetkan jumlah warga buta aksara di Indonesia turun hingga 50 persen menjadi sekitar sembilan juta orang.


Direktur Program Forum Indonesia Membaca, Dessy Sekar Astina, mengatakan, melek huruf dapat ditingkatkan dengan menyediakan sumber bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perpustakaan atau taman bacaan masyarakat yang perlu dikembangkan.


Pengangguran Intelektual

Secara sosial, tingginya angka pengangguran inteluktual itu akan menyebabkan beban, tidak hanya bagi pemerintahan, akan tetapi juga bagi masyarakat secara ekonomi, tinggi angka pengangguran itu menyebabkan hilangnya potensi (Potential Loss) dalam peningkatan pendapatan masyarakat.


Para sarjana kurang berhasil dalam mengatasi persoalan bangsa terkait dengan sistem pendidikan tinggi yang mampu mengacu kreativitas mahasiswanya. Padahal, penumbuhan kreativitas dimaksudkan amat penting, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa.


Akibatnya salah satu penyebab kurangberhasilnya perguruan tinggi menumbuhkan kreativitas mahasiswa adalah terkait dengan metode pembelajaran. Banyak kalangan yang perpendapat, bahwa metode pembelajaran perguruan tinggi di tanah air belum mengacu pada pendidikan orang dewasa. Adapun cirri khas pendidikan orang dewasa adalah mengutamakan penggalian, pendalam, pengembangan dan potensi mahasiswa.


Seperti, Russel pada tahun 1984 yang menjelaskan, pendidikan oang dewasa mensyaratkan bahan ajar yang mencngkup konsep baru, orientasi individual, berbentuk Self Instructional dan kapasitas volume belajar tergantung pada kemampuan mahasiswanya. Diyakini, jika pembelajaran orang dewasa itu tidak diberlakukan, maka mahasiswa tidak mungkin akan lulus jika hanya melalui kegiatan belajar secara instant, yakni belajar untuk menjawab materi soal ujian semata tanpa memahami substansinya. Penentuan kelulusan mahasiswa akan bergantung pada proses pembelajaran.


Mahasiswa tidak hanya dilatih berpikir kreatif dalam sistem pendidikan orang dewasa ini, tetapi juga belajar bertanggung jawab dan mandiri. Sehingga uji kemampuan mahasiswa, dapat dilakukan dengan sistem buka buku (Open Book) atau dapat dibawa pulang (Take Home Exam). Sistem tersebut masih jarang ditanamkan di tanah air.


Karena para sarjana di tanah air belum mampu ini dapat menjawab persoalan bangsa yang merupakan suatu hal yang disayangkan. Hal itu dapat mencerminkan hilangnya ptensi bangsa . Investasi yang telah dikeluarkan untuk mencapai jenjang kesarjanaan tergolong amat besar. Namun, pengembalian investasi (Return On Investment) itu akan berkurang apabila para sarjana tersebut tidak dapat menjawab persoalan dari dirinya sendiri (karena menjadi pengangguran), dan tidak mampu menjawab persoalan bangsa. Para sarjana patut tidak hanya menjawa persoalan bangsa, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Pada tahun 1962 Denison menyebutkan, bahwa peningkatan jumlah kelulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat dalam waktu di tahun 1929-1957, mampu meningkatkan pendapatan per kapita di negara itu sekitar 42 persen. Lebih jauhnya, pada tahun 1976 Denison dan Chung mengidentifikasikan, bahwa jumlah kelulusan di Jepang mampu meningkat pendapatan per kapita per tahunnya sebesar 0,35 persen selama tahun 1961-1971.


Celakanya, konstribusi para sarjana terhadap pemecahan masalah bangsa dan peningkatan kesejahteraan di Tanah Air kian berkurang terkait dengan kasus brain drain, yakni dengan meningkatnya kaum intelektual yang bekerja di luar negeri. Jelasnya, potential loss bangsa kian meningkat karena ketidak- mampuan pemerintah dan swasta dalam menyediakan berbagai lapangan pekerjaan atau karena lapangan pekerjaan tersebut yang tidak sesuai. Seperti, kasus terpuruknya PT Dirgantara Indonesia (PT DI), misalnya, memicu pekerjaan yang memiliki pendidikan tinggi untuk bekerja di luar negeri.


Seiring dengan perjalanan waktu, kelalaian kita dalam mengantisipasi kasus brain drain akan diperkirakan dapat menyebabkan potential loss bangsa kian meningkat. Penyebabnya adalah negara asing kian aktif melakukan penawaran-penawaran yang menjanjikan terhadap para sarjana yang mumpuni untuk dapat bekerja di negara mereka. Suatu negara yang telah menerapkan strategi rekrutmen berdasarkan brain drain diperkirakan bakal sangat menguntungkan, karena tidak perlu mengeluarkan investasi agar dapat mencetak para sarjana. Seperti kita ketahui bersama, untuk dapt mencetak sarjana tidak hanya memerlukan biaya besar akan tetapi juga waktu yang cukup lama.


Maka atas dasar itu, berbagai upaya diperlukan agar keberadaan perguruan tinggi selaras dengan tuntutan kebutuhan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski disadari, bahwa pemerintah kini tengah disibukkan dalam kegiatan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, dengan tidak melupakan perbaikan kualitas pendidikan tperguruan tinggi.


Perbaikan metode pembelajaran berciri pendidikan orang dewasa sangat perlu diciptakan dan dikembangan dalam perguruan tinggi, baik di dalam perguruan tinggi milik pemerintah maupun swasta agar kelak para lulusanya dapat memiliki karakter dan kualitas yang akhirnya dapat menjawab berbagai persoalan bangsa. Selain itu, pemerintah perlu terus berupaya menciptakan kesempatan kerja yang sesuai dengan latar pendidikan para sarjana, untuk mencegah agar tidak terjadinya perpindahan tenaga kerja ke luar negeri.


Output Prestasi Pelajar

Pada survey PISA pada tahun 2006, peringkat Indonesia untuk mata pelajaran Matematika telah turun dari 38 dan dari 40 negara di tahun 2003 menjadi urutan 52 dari 57 negara, dengan skor rata-rata turun dari 411 di tahun 2003 menjadi hanya 391 pada tahun 2006. Untuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), peringkat Indonesia turun dari 36 atau 40 negara di tahun 2003 menjadi 54 dari 57 negara dengan skor rata-rata turun dari 395 di tahun 2003 menjadi 393 tahun 2006. Untuk membaca, peringkat di Indonesia turun dari 40 dari 40 negara menjadi 51 dari 56 negara. Dari hasil-hasil tersebut yang dicapai negara Indonesia telah menjadi catatan kecil, bahwa sangat buruknya sistem pendidikan yang telah dijalankan di Indonesia ini.


UN dan UASBN Meningkatkan Mutu Pendidikan


Selama ini memang dapat diakui bahwa peningkatan mutu pendidikan hanya dilihat dari pencapaian ujian nasionalnya. Ini terbukti meskipun penyelanggaraan ujian nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, dimana UN dan UASBN ini merupakan suatu alat ukur dalam bentuk sistem yang mampu mengkoreksi hasil evaluasi belajar siswa.


Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto saat menjabarkan sebuah Seminar Sehari di Jakarta (19/01). Lebih lanjutnya lagi, Suyanto memaparkan UN harus bisa memberdayakan proses belajar mengajar di sekolah. Adanya UASBN sebagai alat ukur untuk mengkoreksi hasil belajar siswa juga sebagai alat ukur untuk melihat tujuan yang dicapai oleh sekolah dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar.


Seminar sehari yang diselenggarakan atas kerjasama antara Pendidikan Dasar (DIKNAS) DKI Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) bertajukkan tentang peran UN dan UASBN dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Selain Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto, juga dihadiri oleh Ketua Badan Standar Nasional (BNSP) Djemari Mardapi, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas Burhanuddin Tolla dan Kepala Diknas DKI Jakarta Sylviana Murni.


Sylviana Murni menerangkan bahwa, adanya UASBN jangan terlalu dikhawatirkan karena kegunaannya untuk pemetaan dan sebagai bahan kajian masuk sekolah. Hal ini juga sepaham dengan yang diungkapkan Badan Standar Nasional (BNSP) Djemari Mardapi, yang memapar kan lebih dalam lagi tentang peranan UN secara operasionalnya merupakan kewenangan guru sebagai pendidik, sedangkan dalam evaluasi akhir harus diukur dengan UN. Banyak peran dalam meningkatkan mutu pendidikan, tetapi hai tersebut terjadi jika kegiatan belajar megajar (KBM) yang dilakukan pendidik berjalan dengan benar, maka pada akhirnya hasil UN dan UASBN yang ingin dicapai akan terwujud.


Sementara itu, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas, Burhanuddin Tolla menjelaskan bahwa UN dan UASBN ini mempunyai citra untuk membangun manuasia Indonesia yang unggul, hingga harus berangkat dari peningkatan mutu pendidikan nasional, agar untuk membangkitkan motivasi belajar bagi siswa dan motivasi mengajar yang baik bagi guru. Walau UN dan UASBN dijalankan oleh pemerintah, tetap saja masih terus menuai kritik terhadap masyarakat.


Sisi ini sebetulnya kurang membawa pencerahan baru. Selayaknya proses pendidikan harus diletakkan pada dasar yang proporsional. Perlu ada inovasi dalam mengaitkan sistem pendidikan dan acuan perencanaan SDM di masa yang akan datang. Acuan ini perlu diselaraskan dengan penyeimbangan kue anggaran pembangunan yang adil. Dalam iklim perekonomian yang global, pendidikan juga harus diperkaya dengan berbagi inovasi bagi proses pencerahan dan pengembangan SDM di Indonesia. Disayangkan, kebutuhan pasar kerja dan sinkronisasi pembangunan selama ini kurang pas dengan kebijakan peningkatan mutu pendidikan yang melulu dan mengutamakan output pencapaian prestasi yang mengabaikan proses pendidikan, keterampilan hidup dan inovasi para lulusannya. Ini menjadi harapan yang terus menggantung, melingkungi masa depan pendidikan di Indonesia.


Menciptakan Pembelajaran Pendidikan Kejujuran yang Mandiri dan Kreatif

Berbagai upaya untuk melakukan pengembangan guna meningkatkan pelayanan terhadap para peserta didik / masyarakat sangat mustahil dapat diwujudkan jika tidak didukung oleh segenap persoalan sekolah serta ketersediaan dan kesiapan segala perangkat pendukungnya, diantaranya kurikulum kesiswaan, hubungan masyarakat dan industri serta sarana dan prasarana. Oleh karena itu, diperlukan bantuan oleh beberapa pihak untuk menunjang program pengembangan yang dilakukan oleh sekolah dan konsisten di dalam penerapan Pembelajaran Berbasis Sekolah yang berorientasi pada pengembangan Pembelajaran Berbasis Produktif.


Keunggulan pada mutu tamatan tidaklah dapat terpisahkan dari Rencana Strategis Sekolah, karena ini merupakan upaya pencapaian keberhasilan sekolah. Renstra merupakan suatu acuan atau pedoman yang harus dimiliki sekolah, sebagai suatu instrument atau tolak ukur pencapaian indicator-indikator keberhasilan yang sekolah targetkan dalam setiap jangka waktu target pencapaian. Rencana Strategis Sekolah adalah perencanaan peluang untuk meningkatkan pelayanan dalam meningkatkan lulusan yang kompeten dan mampu bersaing ditingkat nasional dan bahkan mencapai tingkat internasional dengan membekali siswanya dengan kemampuan berkomunikasi bahasa inggris dan konsisten di dalam penerapan pelajaran berbasis sekolah yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran berbasis produktif.


Keterbatasan kualifikasi dan kualitas tenaga pengajar, materi bahan ajar, fasilitas sarana dan prasarana serta kurangnya – link dengan perusahaan merupakan suatu hambatan sekaligus tantangan yang dicari alternatif jawaban untuk mengatasinya. Kemajuan informasi serta teknologi yang berkembang akan berlaku di dunia industri, bergerak sedemikian cepat meningakatkan informasi pengajaran yang telah diberikan di sekolah-sekolah saat ini. Kesiapan untuk bekerja dengan segala persyaratan dalam aspek kognitif, afektif, dan skill yang harus dimiliki oleh tamatan menjadi faktor yang diutamakan dalam pelaksanaan profesionalitas kerja.


Menjawab tantangan ini, haruslah dapat disikapi dengan cara mengembangkan pola pengajaran yang mandiri serta kreatif, dalam memanfaatkan segala kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh sekolah dalam beberapa langkah dan upaya yang perlu dilakukan, di antaranya:



  1. Dengan menyusun program-program pengajaran yang dapat membentuk peserta didik menjadi tenaga kerja yang berstandar kwalifikasi keterampilan jabatan kerja,
  2. Melakukan pembinaan karakter professional dalam pengembangan diri peserta didik,
  3. Menumbuhkan semangat belajar dan berlatih pada peserta didik bahwa apa yang dilaksanakan di sekolah merupakan suatu pelatihan kerja di perusahaan, sehingga suatu aspek yang menjadi persyaratan haruslah dibiasakan,
  4. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga masyarakat maupun dunia industri agar dapat senantiasa apat perduli terhadap segala program-program yang dilakukan yang dilakukan oleh sekolah.

Bila saja hai tersebut ini dapat dilakukan dengan mengikuti aturannya, maka diharapkan SMK sebagai lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dapat menjadi suatu lembaga formal pendidikan yang Profesional dan Mandiri dalam mewujudkan kompeten, berdedikasi dan peduli berstandar Nasional, mampu menghasilkan mutu tamatan dengan keunggulan keterampilan dan ketelitian yang mengutamakan kedisiplinan dan kejujuran serta dilandasi oleh jiwa dan mengutamakan semangat keimanan. Kreativitas, kekeluargaan dan keperdulian terhadap sesama dan di lingkungannya, serta dapat mewujudkan kerja sama sekolah dan pembinaan standar lulusan.


Selain para peserta didik kita menjalani pendidikan di sekolah tidak hanya mendapatkan keterampilan dan kreativitas semata, tetapi juga dapat mendapatkan suasana suatu keterampilan yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri setelah ia lulus nanti. Membicarakan hubungan antara pendidikan dengan dunia lapangan kerja sebenarnya membicarakan hal yang sudah usang, karna pemerintah pernah menerapkan kebijakan yaitu Link and Match, kebijakan yang menekan kearahhubungan pendidikan dengan dunia kerja akan tetapi kebijakan ini sepertinya telah sirna tak tentu rimbanya.


Di samping itu, yang tak kalah terpentingnya adalah bagaimana cara mewujudkan suatu program dalam pencapaian keberhasilan sekolah, diantaranya dilakukan dengan menyusun suatu program-program pencapaian sasaran jangka pendek, seperti:

  1. Program Standarisasi Peningkatan Mutu Pelayanan Administrasi Manajemen,
  2. Program peningkatan dan pengembangan, Program keahlian dan Lembaga Diklat Keterampilan,
  3. Program pembinaan dan penigkatan professional dan kompetensi ketenagaan,
  4. Program Pengembangan dan Peningkatan mutu pembelajaran (KBM),

  5. Penerapan Organisasi Pembelajaran,
  6. Pelaksanaan Progres peport pada setiap semesternya,
  7. Program pembinaan peningkatan kreativitas siswa,

  8. Program pengembangan dan peningkatan fasilitas serta pembangunan kemajuan gedung sekolah,

  9. Pusat Pelayanan dan Pembinaan Mental Spiritual (PPMS)

  10. Penyempurnaan dan peningkatan SIM dan Net Work/ Jaringan Internet, agar pesrta didik mengerti serta memahami perkembangan teknologi masa depan,

  11. Program pembinaan dan pengkatan kerjasama dengan dunia usaha atau industri pasangan,

  12. Meningkatkan peran Komite Sekolah / Majelis Sekolah,

  13. Program peningkatan sumber daya dan unit produksi dan jasa (projas) sebagai replikasi tempat kerja siswa, serta

  14. Program pembinaan dan peningkatan mutu lingkungan sekolah dan UKS.

Mewujudkan Program keberhasilan sekolah merupakan tujuan baik bagi kita semua yang ingin mengembangkan pendidikan untuk masa depan pendidikan di tanah air ini nanti, dalam memiliki kekuatan untuk mencapai hal yang lebih baik dan dapat terwujudkan dengan sempurnanya harus bersumberkan dari tekad dan kekuatan diri kita sendiri untuk mewujudkannya. Selagi kita masih memiliki semangat agar bisa maju dan berkembang dalam mengejar segala ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu maju, kita sendiri pun juga akan bisa dalam rangka melahirkan dan mengembangakan generasi-generasi penerus bangsa yang unggul dan professional dalam kedisiplinan ilmu, kemampuan, dan kecakapan pendidikannya.


Kesimpulan

Pencerahan dalam pendidikan merupakan sesuatu cara yang tidak mudahnya, agar mencapai kualitas pendidikan yang lebih maju untuk perkembangan mutu pendidikan dasar dan menengah yang relatif masih menggantung di tahun 2007 lalu. Masih adanya warga yang buta aksara, pengangguran, serta didampingi dengan penurunan hasil kemajuan pendidikan di Indonesia. Adanya masalah-masalah tersebut merupakan keterkaitan dengan perekonomian yang terjadi di Indonesia. Sebagian juga adanya hilangnya potensi (Potential loss) para sarjana, yang disebabkan sarjana itu tidak mampu menjawab berbagai persoalan bangsa yaitu, metode pembelajaran di tanah air ini dikarenakan belum mengacu pendidikan orang dewasa yang harusnya diciptakan dan berkembang did lam perguruan tinggi.


Cara pemerintah dalam memberlakukan sistem Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) merupakan langkah yang tepat dalam memberdayakan mutu pendidikan Indonesia, yang berguna sebagai alat ukur sistem pendidikan dalam mengevaluasi hasil proses belajar para peserta didik serta dapat membangkitkan motivasi belajar yang baik bagi siswa, dan meningkatkan proses pengajaran bagi pendidik. Pendidik juga harus menambahkan kualitas dan kualifikasi terhadap bahan materi ajarnya, agar siswa dapat terdorong dengan kemandirian yang kreatif sesuai tuntutan perkembangan pendidikan untuk masa depan, yang mungkin nanti dapat menjawab berbagai persoalan bangsa terhadap mutu pendidikan di tanah air.

Monday, June 9, 2008

Obama, Pembuat Sejarah Baru Amerika



Sebuah sejarah baru kembali di toreh saat ini, Barackh Obama menjadi warga kulit hitam Amerika Serikat pertama yang meraih nominasi presiden dari partai Demokrat. Setelah pertarunganan sengit dengan rivalnya Hillary Clinton dalam pemilihan pendahuluan, Obama mencapai kemenangan untuk melaju ke pemilihan presiden.
Sebagai aktivis sosial di Chicago, ia melihat kemiskinan dan ketertinggalan warga kulit hitam. Sistem adalah penyebab semua itu. Untuk mengubahnya, Obama sadar hal itu harus dilakukan melalui gerakan politik.
Pada 2004, ia bertarung menjadi Senat AS dan menang. Hal ini tak lepas dari ketenaran yang diraihnya ketika menyampaikan pidato pada konvensi Partai Demokrat tahun 2004.
Dengan pidato yang memuja kebesaran AS, tetapi mengingatkan negara yang kehilangan reputasi global, kekacauan di dalam negeri karena banyak kelompok terpinggirkan, Obama mendadak menjadi selebriti. Banyak yang mengundangnya sebagai pembicara. Dari seorang calon kulit hitam yang tidak dikenal, Obama menjadi Senator AS dengan kesediaan bekerja sama dengan siapa pun, termasuk Senator Republik.Dari sinilah ia memutuskan diri menjadi capres. Toni Morrison, sastrawan AS peraih Nobel Sastra 1993, menulis, "Saya mendukung Anda bukan karena kulit Anda." Morrison, kulit hitam, melihat Obama sebagai figur yang merangkul, jujur, pintar, dan ingin mengubah peta politik AS. Itulah inti kemenangan Obama, ditambah tenaga lapangan yang ditebar membujuk warga AS.
Kisah hidup Obama yang berliku, menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi warga AS. Ia menapaki kehidupan yang pahit, ditinggal ayah (Barack Hussein Obama asal Kenya), yang punya tiga istri lain, selain ibu kandung Obama, Stanley Ann Dunham. Ibu kandungnya pun kemudian menikah dengan Lolo Soetoro.Ia menjadi sebatang kara setelah ibunya memilih pergi ke Indonesia, mengikuti suami keduanya itu. Setelah sempat tinggal di Indonesia, Obama memilih kembali ke Hawaii, tinggal bersama kakek dan nenek kulit putih. Pergulatan hidup dimulai karena hidup tanpa orangtua kandung, diiringi segregasi ras lingkungan di Punahou, Hawaii. Ibunya, Ann, pernah mendapatkan buku harian Obama yang mengisahkan, "Siapakah diri saya ini?"
Di tengah gejolak batin itu, Obama berprestasi di sekolah, mungkin turun dari ibu yang cerdas dan pendobrak kebuntuan politik AS. Ayahnya juga pintar, mendapatkan beasiswa pada era Presiden John F Kennedy.
Para wanita AS, yang menjadi ibu tunggal, menjadikan Obama sebagai pemberi semangat. Tanpa orangtua lengkap, Obama bangkit dan kini jadi capres.
Obama menjadi sebuah bukti bahwa masa lalu bukanlah alasan kehancuran masa depan. Masa lalu yang menyakitkan memang tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih menanti untuk ditapaki. Respon kita hari ini, akan menentukan masa depan kita. Kita bisa memilih menjadi tawanan masa lalu, dan hidup dengan mengasihani diri lalu menuju kehancuran, atau bangkit menatap masa depan, dan mengukir sejarah.