Friday, June 6, 2008

Sejarah Hidup


Nama saya Leonard, lahir tanggal 23 September 1982 di Tanjung Pinang, Riau, dari sebuah suku BATAK, dengan marga Mangunsong, jadilah nama lengkap saya "Leonard Mangunsong". Saya dibesarkan dengan penuh kasih sayang, walaupun kasih sayang tersebut tidak selalu diungkapkan dengan cara-cara yang manis dan penuh dengan kelembutan. Saya dididik dengan keras, bahkan bisa dikatakan sangat keras, sehingga tidak jarang saya harus menerima pukulan dan hajaran yang membuat saya harus menangis memohon ampun. Tetapi... itu semua bukan karena mereka berwatak keras seperti itu, semua karena kesalahan yang saya lakukan.
Sekarang justru saya bersyukur, bahwa saya dididik dengan keras, karena dengan demikian saya dilatih untuk disiplin dan melakukan yang terbaik, bahkan bila perlu tanpa kesalahan. Hasilnya, tidak buruk. Sejak bangku Sekolah Dasar, saya selalu mendapat predikat terbaik di sekolah. Saya berhak mendapatkan beasiswa dan sering diikutsertakan dalam perlombaan-perlombaan antar sekolah di wilayah Bekasi. Saya sekolah di SDN Kusuma Indah, Bekasi. Di sekolah ini, saya belajar banyak hal, dan sampai hari ini saya masih mengingat guru-guru yang telah memberikan saya dorongan untuk terus maju. Mereka adalah Ibu Euis, Ibu Emy, Ibu Lena, Pak Uyu, Pak Salim. Pak Uyu merupakan ketua RT di tempat saya tinggal dan Pak Salim adalah guru kesenian yang dengan setia mengajarkan saya bagaimana meniup suling (dan akhirnya saya berhasil)


Di bangku SD kelas IV saya mendapat musibah yang sangat menyakitkan (lagi-lagi karena kesalahan saya). Saya terjatuh dari sebuah mobil pick up yang saya tumpangi (tanpa memberitahukan supir, karena waktu itu dalam keadaan macet). Saya naik dan tanpa sadar jalan raya telah kembali lancar dan mobil tersebut jalan, saya sangat ketakutan sehingga memutuskan untuk meloncat ke sisi kiri jalan. Tetapi, saya tidak berhasil, malah kepala saya terbentur aspal dan saya pun pingsan. Melihat kejadian itu, teman saya (kalau tidak salah namanya Novi) berlari ke rumah saya memberitahukan kepada orang tua saya. Ibu saya pun berlari ke arah jalan raya dan menangis begitu melihat saya pingsan dengan darah di bagian kepala. Sore itu juga saya dilarikan ke rumah sakit dengan menumpang mobil tetangga saya, rumah sakit yang pertama didatangi adalah RSCM, ditolak, kemudian RS Corolus, ditolak juga dan akhirnya saya dibawa ke RS POLRI Kramat Jati dan puji Tuhan, ada ruangan kosong, walaupun mungkin kurang memadai. Saya pun segera dirawat dan selang beberapa hari saya mulai membaik. Akan tetapi, saat kondisi mulai membaik, tiba-tiba saya merasakan sakit di kepala saya, saya mulai berteriak-teriak kesakitan. Ibu saya pun memanggil suster yang berjaga di ruangan tersebut, tetapi dia mengatakan tidak akan ada apa-apa, itu hanya reaksi obat biasa. Saya pun diberikan obat penenang dan hasilnya saya tidur.
Paginya, setengah muka saya (bagian kanan) tidak dapat digerakkan (lumpuh). Saya tidak dapat berbicara normal, saya tidak dapat mengangkat alis bagian kanan. Ternyata setelah diadakan CT Scan saya mengalami geger otak. Melihat fakta ini, saya mulai putus asa. Akan tetapi orang tua saya memberikan dukungan yang besar dan mengatakan semua itu masih dapat kembali ke fungsi normal asalkan saya menjalani terapi.
Setelah 1 minggu lebih di rumah sakit, saya pun diijinkan pulang ke rumah dan harus melakukan rawat jalan dan terapi pemanasan di bagian muka untuk mengembalikan fungsi saraf bagian kanan yang rusak. Hasilnya, saya dinyatakan pulih, tetapi saraf muka saya tidak kunjung membaik. Tidak lama, Tulang saya (dalam adat batak, Tulang berarti saudara laki-laki ibu kita) datang ke rumah dan menyarankan agar saya ikut terapi akupunktur (tusuk jarum) di wilayah Pademangan, Jakarta Pusat. Akhirnya, saya pun dibawa ke rumah Tulang saya tersebut dan tinggal di sana kira-kira 2 bulan. Pertama kali saya dibawa ke rumah seorang Shinse, yang ternyata masih merupakan kerabat dekat dari Nantulang saya (istri Tulang). Shinse ini cukup ramah, walaupun dimukanya tersirat ketegasan dan kewibawaan. Saya kemudian diminta berbaring di tempat tidur dan mulai ditusuk jarum. Saya pun menjerit kesakitan dan (maaf) memaki-maki Shinse dan saudara saya, karena saya menganggap saya akan dibunuh di situ. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian dia menempelkan sebuah alat yang mengalirkan listrik ke muka saya. Akhirnya saya pun terdiam dan mencoba menikmati sensasinya. Sakit.... tetapi saya pikir "demi kesembuhan"...
Saya pun mengikuti terapi tersebut selama hampir 1 semester, setiap dua hari sekali saya harus naik bus Patas 02 dari Cililitan bersama dengan bapa saya. Pukul 04.00 saya sudah dibangunkan dan siap-siap berangkat untuk Terapi. Hasilnya, sayapun berangsur-angsur pulih, walaupun menurut informasi dari Shinse (oh...ya, namanya Shinse Bong) agak sulit untuk mengembalikan ke kondisi 100%. Saya pun pasrah dan menerima apa adanya.
Selanjutnya, ketika saya lulus SD, saya pun masuk ke SLTPN 6 Bekasi (terkenal dengan nama BELFAST). Di sekolah ini tidak banyak kenangan yang terjadi, karena semua terkesan datar-datar saja, malah terlalu banyak hal-hal yang mengecewakan yang saya alami di sini. Di sekolah ini saya mulai menyukai seorang wanita, cantik, imut, namanya Lusiana (sekarang dia seorang Dokter Gigi lulusan FKG UNPAD). Saya pun menyatakan perasaan saya (kalau tidak salah saya mencoba 2 kali lewat telepon) dan jawabannya, DITOLAK. Tapi.... tidak masalah, hidup harus terus berjalan.
Di sekolah ini ada sistem, peringkat 3 besar harus ikut dalam kelompok Sains Club (saya mengatakan ini adalah kelompok terkurung, yang kerjanya tiap hari belajar tambahan di laboratorium). Saya PUSING. Tetapi ada kebanggaan, karena kita merupakan kelompok yang diperhitungkan di sekolah. Di sekolah ini juga saya mulai belajar bermain gitar, bersama dengan tetangga saya Kharel Andriawan (selanjutnya saya panggil Andri) saya berlatih bermain gitar. Hasilnya, di kelas 2 SMP saya sudah mampu menampilkan lagu OASIS di depan rekan-rekan saya.
Kemudian, selepas dari SMP saya pun melanjutnya ke SMAN 5 Bekasi. Di sekolah ini terlalu banyak kenangan yang saya dapatkan. Dan di usia ini juga saya mendapatkan pacar untuk pertama kalinya. Saya masuk ke SMA ini dengan peringkat 4, sehingga saya dimasukkan dalam kelas I-4. Di sekolah ini juga saya mulai aktif dalam kegiatan siswa yaitu PRAMUKA. Di Pramuka saya dilatih untuk hidup mandiri dan berusaha berjuang tanpa tergantung orang lain. Proyek pertama di Pramuka adalah menjadi Pengibar Bendera dalam acara Peringatan Ulang Tahun Pramuka pada tahun 1997. Saya bangga sekali, karena dalam kegiatan tersebut saya dipercaya sebagai penjaga bendera selama upacara berlangsung (dengan pakaian Pramuka lengkap dengan semua atributnya, gagah sekali). Di awal-awal pelatihan Pramuka, saya diwajibkan mengikuti kegiatan PPCP, yang katanya pelantikan BANTARA untuk para anggota Pramuka. Di acara ini saya digembleng dengan keras oleh senior dan para alumni yang kebanyakan telah terjun di ketentaraan. Saya mengalami bagaimana rasanya ditendang dari atas untuk masuk ke dalam kolam lumpur dan berjalan sejauh 300 meter dalam lumpur. Setelah naik, saya masih harus mengalami hukuman (tau kenapa?), karena kacu (dasi pramuka, simbol bendera merah putih) yang saya gunakan kotor terkena lumpur. (Saya berpikir, ada aja alasan para senior untuk menghukum), tapi saya bangga dan menerima hukuman tersebut sebagai bagian dari proses pendisiplinan diri. Akhir yang menyesakkan pun terjadi, kami dinyatakan TIDAK LULUS menjadi BANTARA dan harus mengikuti pelantikan ulang. MARAH....
2 bulan kemudian, diadakan pelantikan ulang BANTARA di sekolah. Kegiatan ini tidak kalah parah dari PPCP sebelumnya. Kami harus berjalan melewati selokan sempit, dengan cara merunduk atau bahkan merangkak, kotor dan bau. Malamnya, kami harus mengikuti JURIT MALAM dengan menggunakan baju pramuka lengkap (tau kan siangnya baru digunakan berlumpur-lumpur ria, jadilah kami berjalan tengah malam dengan baju basah.. dingin...). Perjuangan membuahkan hasil, kami dinyatakan LULUS dan berhak menyandang tanda pangkat BANTARA, sebuah kebanggaan yang sangat besar.
Di usia SMA ini saya juga aktif dalam kegiatan di gereja (GBI Batu Penjuru), saya tercatat sebagai Wakil Ketua Remaja GBI Batu Penjuru (1997-1998). Saya memiliki pembina-pembina yang sangat baik dan mau membimbing saya sejauh yang saya mampu, mereka adalah (mudah-mudah tidak ada yang terlewat), ka Asdiar, ka Ronald, ka Johny, ka Wahyu, ka Dion, ka Lina, ka Brata, ka Wulan, ka Ginting, dsb. Pada saat itulah diajarkan lebih serius bermain gitar oleh ka Dion, sampai akhirnya dipelopori terbentuk sebuah BAND ROHANI dengan nama TUNAS band, dengan anggota saya (gitar), Andri (drum), Winny (bas), David (gitar), Diana (vokal), Nadya (vokal), Shendy (vokal) dan ka Dion (keyboard). Banyak hal yang kami pelajari, hingga akhirnya band ini harus ditata ulang dan banyak hal yang harus berubah, sehingga susunannya menjadi saya (gitar), Andri (drum), Winny (bas), Lucky (gitar), Nadya (vokal), Diana (vokal), Heince (vokal) dan Rocky (keyboard).
Di gereja inilah saya mulai menemukan wanita yang saya sukai, DIANA. Wanita yang baik, penuh perhatian, taat dan takut akan Tuhan. Proses pendekatan yang cukup panjang, saya lalui melalui kegiatan kebaktian padang yang akan diadakan oleh Remaja GBI Batu Penjuru di CIbubur. Pada saat itu, dengan menjadi 1 tim dalam kepanitiaan saya memiliki kesempatan untuk mengenal dan mengetahui lebih banyak tentang Diana dan akhirnya 14 Februari 1999 saya mengungkapkan perasaan saya kepadanya dan diapun menerima saya dengan baik. Akan tetapi, hubungan ini tidak berjalan dengan lancar dan hanya bertahan selama 3 bulan. Kami pun berpisah baik-baik dan masih tetap berteman hingga sekarang.
Di SMA 5 saya diajarkan oleh seorang guru matematika perempuan yang baik. Akan tetapi, saya sering memperhatikan ada satu guru matematika lain, dia bernama Bpk. Manalu. Orang batak, sangar dan kabarnya galaknya minta ampun. Pernah suatu ketika, saya bertanya kepada beliau tentang materi yang tidak saya pahami waktu itu, INTEGRAL. Sialnya, saya malah dipukul dan dibilang "BEGO, TOLOL kau, sudah sana lihat di perpustakaan". Itu adalah satu hal yang membuat saya benci matematika (jadi, tolong para guru-guru, jangan pernah menghina murid Anda seperti itu).
Naik ke kelas 3, seperti kebanyakan orang tua, menginginkan anak-anaknya masuk IPA. Karena katanya, dengan masuk IPA, masa depan cerah menanti di depan kita. Saya pun akhirnya masuk IPA, yah ini memang sudah menjadi kesenangan saya. Di kelas 3 inilah saya melihat satu bentuk kesombongan yang ditampilkan oleh guru saya, kalau tidak salah namanya Ibu ... (saya agak lupa namanya), tetapi beliau memang pintar, karena lulusan S2 ITB. Di kelas dia tidak mengajarkan hal-hal yang wajar kepada anak muridnya, akan tetapi kesombongannya karena dia telah belajar di ITB, sehingga tidak jarang dia mengatakan, "Maaf ya, ini harus saya selesaikan dengan cara S2".. cape dech....
Awalnya, dengan semua kejadian itu saya berniat membenci matematika. Tapi hasilnya, nilai ulangan saya tidak pernah bagus. Saya pun berpikir, ternyata matematika tidak mungkin bisa dikalahkan, oleh karena itu saya mulai mengalihkan kebencian saya kepada guru matematika, karena saya berpendapat bahwa seorang guru tetap saja manusia dan sangat mungkin untuk dikalahkan. Saya pun termotivasi untuk mengalahkan guru-guru saya dengan cara memaksakan diri untuk mengambil Matematika UI dan Matematika UNJ dalam pilihan SPMB tahun 2000. Hasilnya, saya tidak lulus. Kecewa, sedih, marah dan putus asa.
Saat itulah, ada rekan bapa saya yang menawarkan, kenapa tidak kuliah di STKIP PGRI Jakarta saja. Di kampus itu, walaupun masih dalam kondisi yang memprihatinkan, tetapi sudah terakreditasi BAIK. Saya pun setuju (karena kabarnya ada Program Studi Matematika). Saya mulai kuliah sambil bekerja. Bekerja???? Ya saya bekerja di sebuah rental pengetikan komputer. Saya direkomendasikan oleh ka Brata (pembina saya di organisasi Remaja gereja). Dia yang mengajarkan saya mengetik dan bermain komputer, sehingga dia berani merekomendasikan saya untuk bekerja di rental komputer tersebut (namanya MCC-2000).
Di rental ini, saya bukan pekerja yang sudah mahir, tetapi pekerja yang masih harus terus belajar. Saya pun belajar dari bos saya (Mas Feri), rekan saya (Mas Wawan, Mas Agus, Mas Aan, Mas Marwan, Mbak Vina). Saya belajar bagaimana mengetik dengan cepat, menggunakan internet, desain grafis hingga troubleshooting kecil-kecilan. Ada banyak keuntungan yang bisa saya peroleh, misalnya, saya dapat mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan gratis, saya dapat mengumpulkan uang dari rekan-rekan kuliah yang malas bekerja, lumayan hitung-hitung tambah penghasilan.
Di kampus saya memiliki banyak teman, tetapi yang paling spesial adalah rekan-rekan sekelas yang menamakan dirinya "TIM INDONESIA". Kenapa demikian? karena tim ini terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Saya (Batak dan Kristen), Anto (Jawa dan Islam), Gusti Ayu (Bali dan Hindu), Steven (TImor-timor & Katolik), Patricia (TImor-timor & Katolik), Erni (Jawa dan Islam), Sari (Jawa dan Islam), Syahri (Flores dan Islam) dan lain sebagainya. Di kampus ini juga saya bergaul dengan beberapa orang tua, misalnya Pak Suhardjo (Wakil Kepsek SMP 246, pak Slamet (guru matematika), dsb.
Saya lulus tahun 2004 sebagai wisudawan pertama yang diwisuda dengan menggunakan nama Universitas Indraprasta PGRI (september 2004, STKIP berubah menjadi Universitas). Saya diwisuda tanggal 7 Oktober 2004 di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII. Sebelum saya lulus, saya sudah mengajar matematika di SMA YPM, Lenteng Agung. Saya mengajar hingga tahun 2007. Pada tahun 2005 saya mengajar matematika di SMP Imanuel Pondok Melati, dimana rekan bapa saya yang merekomendasikan saya kuliah di STKIP telah menjadi Kepala Sekolah di sana. Dan saya pun keluar dari sana pada tahun 2007.
Minggu, 5 Maret 2006 saat saya sedang kebaktian di gereja HKI Taman Mini, saya mendapat telepon dari kampus UNINDRA, begitu saya angkat ternyata yang menelepon saya adalah Dekan FTMIPA, Bpk. Drs. Supardi U.S., MM. Beliau meminta saya untuk datang hari Senin ke UNINDRA. Saya pun tidak menolak panggilan tersebut. Kemudian beliau meminta saya membawa surat lamaran yang ditujukan kepada Rektor sebagai Dosen. Hari Selasa saya datang kembali ke kampus dan Pak Supardi mengatakan tunggu telepon darinya besok pada hari Rabu. Hari Rabu, saya menunggu telepon dan akhirnya tidak pernah datang. Penasaran, sayapun balik menelepon pak Supardi malamnya. Saya kaget bukan kepalang, karena beliau mengatakan saya sudah harus mengajar besok pagi pukul 08.00 di Semester IV Matematika dengan mata kuliah KALKULUS 2.
Saya senang, sekaligus pusing. Karena saya hanya diberikan waktu semalaman untuk mempersiapkan materi yang harus saya ajarkan. Untunglah, catatan kuliah saya masih lengkap dan saya telah memiliki pengalaman untuk mengajar di tingkat SMA, sehingga tidak ada masalah dengan proses pembelajaran pertama saya.
Sekarang, saya dipercaya untuk menjadi Staf Laboran pada Laboratorium FTMIPA. Tugas dan fungsinya ternyata kadang hanya merupakan formalitas, karena saya justru diminta aktif untuk melakukan tugas-tugas penelitian di kampus. Saya pernah terlibat dalam penelitian "Rendahnya Hasil Belajar Matematika di Indonesia" bersama dengan Prof. Sasmoko, Dr. Suparman Abdulah, Rektor UNINDRA dan Dekan FTMIPA.
Satu hal yang membahagiakan bagi seorang guru, adalah melihat murid yang diajarkannya berhasil. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru yang telah membimbing saya, mungkin caranya tidak sesuai dengan yang saya inginkan, tapi bapak dan ibu telah berhasil membawa saya sampai seperti ini. Terima Kasih dan Semoga kita dapat bertemu.
Kepada seluruh murid dan mahasiswa saya, apa yang saya lakukan, bukan untuk membuat kalian kecewa dan mundur, tapi untuk membuat kalian maju dan melebihi saya. Ayo Berjuang dan Raih Impian Terbaik Kita.
God Bless....

2 comments:

Anonymous said...

Hebatt
keren bgt si pak crt2ny .udh pntr,aktf di greja lg
iih pak leo krn
sy jd minder
hhe
.naomi.

saraswati said...

saya acungin 20 jmpol bwt bpk,tua deh jmpol spa aj!!!!!!!!!
hehehehe.........